KONTAN.CO.ID - Ekspor batubara termal global berpotensi kembali meningkat pada kuartal IV-2026 setelah mengalami kontraksi selama dua tahun berturut-turut. Kenaikan permintaan musiman di Asia dan selisih harga yang semakin lebar dibandingkan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) menjadi pendorong utama. Melansir
Reuters Sabtu (10/10/2026), Kolumnis Reuters Clyde Russell Maguire menilai, harga batubara termal yang jauh lebih murah dibandingkan LNG memberikan insentif ekonomi bagi pembangkit listrik di Asia untuk meningkatkan penggunaan batubara menjelang musim dingin.
Baca Juga: IMX 2026 Digelar di BSD, Industri Modifikasi Otomotif Indonesia Bidik Pasar Global Harga acuan batubara termal Australia untuk ekspor dari Newcastle saat ini berada di kisaran US$ 143 per ton, setara sekitar US$ 5,40 per juta British thermal units (MMBtu). Sementara itu, harga LNG untuk pengiriman ke Asia berada di sekitar US$ 25 per MMBtu. Dengan demikian, harga batubara termal Australia lebih murah sekitar US$ 19,60 per MMBtu dibandingkan LNG. Batubara Indonesia, sebagai komoditas ekspor termal terbesar di dunia, bahkan secara rutin ditawarkan setidaknya US$ 1 per MMBtu lebih murah daripada batubara Australia. Kondisi tersebut memperkuat daya saing batubara di tengah tingginya harga gas. Pembangkit listrik di kawasan Asia memiliki insentif untuk memilih batubara sebagai sumber energi yang lebih ekonomis, terutama ketika kebutuhan listrik dan pemanas meningkat pada akhir tahun.
Baca Juga: PHE OSES Perkuat Kolaborasi dalam Lestarikan Ekosistem Pesisir Permintaan Asia berpotensi meningkat Peningkatan permintaan musiman menjadi faktor lain yang berpotensi mendongkrak ekspor batubara. Negara-negara konsumen utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan biasanya meningkatkan persediaan energi menjelang musim dingin. Data perusahaan intelijen komoditas Kpler menunjukkan, ketiga negara tersebut mengimpor sekitar 122 juta ton batubara selama Juli–September 2026.
Baca Juga: Lakukan Transformasi Bisnis, Jumlah Tenaga Kerja GDPS Tumbuh 44% Sebagai perbandingan, total impor batubara termal ketiga negara itu pada kuartal IV-2024 dan kuartal IV-2025 rata-rata mencapai 143 juta ton per kuartal. Jika pola musiman tersebut kembali terjadi pada akhir tahun ini, impor batubara China, Jepang, dan Korea Selatan berpotensi meningkat sekitar 20 juta ton dibandingkan kuartal III-2026. Kenaikan permintaan tersebut berpeluang memberikan dorongan bagi negara eksportir utama, termasuk Indonesia dan Australia, untuk meningkatkan pengiriman batubara. Data Kpler menunjukkan, ekspor batubara Indonesia pada kuartal IV selama periode 2023–2025 rata-rata mencapai sekitar 137 juta ton. Angka tersebut merupakan volume tertinggi dibandingkan kuartal lainnya dalam periode tersebut. Sebaliknya, pengiriman batubara Indonesia pada kuartal III-2026 tercatat sedikit di bawah 107 juta ton, menjadi yang terendah untuk periode kuartal III sejak 2021. Australia juga mencatat pola serupa. Ekspor batubara negara tersebut pada kuartal IV selama periode 2023–2025 rata-rata mencapai sekitar 55 juta ton. Adapun ekspor pada kuartal III-2026 tercatat sekitar 52 juta ton.
Baca Juga: Supersonic Tambah Kapasitas Produksi Calcium Carbonate 39% Ekspor Indonesia dan Australia berpotensi naik Apabila permintaan impor negara-negara Asia Timur kembali mengikuti pola musiman tahun-tahun sebelumnya, volume ekspor batubara Indonesia dan Australia berpeluang meningkat signifikan pada kuartal IV-2026. Berdasarkan data Kpler, total ekspor batubara kedua negara tersebut pada kuartal IV selama periode 2023–2025 rata-rata mencapai sekitar 192,5 juta ton. Sementara itu, gabungan ekspor Indonesia dan Australia pada kuartal III-2026 tercatat sekitar 159 juta ton. Dengan mengacu pada pola historis tersebut, volume ekspor gabungan kedua negara berpotensi meningkat hampir 30 juta ton pada kuartal IV-2026. Bagi Indonesia, peningkatan permintaan tersebut dapat membuka peluang bagi eksportir batubara untuk meningkatkan volume pengiriman pada penghujung tahun. Namun, realisasinya tetap bergantung pada perkembangan harga energi, kebutuhan pembangkit listrik, serta keputusan pembelian negara-negara importir.
Baca Juga: Bulog Bebaskan Batas Pesanan Beras untuk Kopdes Merah Putih, Ini Alasannya Maguire menilai, selisih harga antara batubara dan LNG menjadi faktor penting yang dapat mempertahankan daya saing batubara di tengah dorongan transisi energi. Ketika harga LNG masih tinggi dan permintaan energi meningkat menjelang musim dingin, pertimbangan biaya berpotensi membuat pembangkit listrik di Asia tetap mengandalkan batubara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun transisi energi terus berlangsung, faktor keekonomian masih berperan besar dalam menentukan pilihan bahan bakar di sejumlah negara Asia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News