KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Qatar menghentikan produksi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) terbesar di dunia memicu gejolak di pasar energi global. Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga gas dan mengerek harga batubara sebagai energi substitusi. Mengutip
Bloomberg, penutupan fasilitas LNG tersebut mendorong harga gas Eropa melonjak 39%, kenaikan tertinggi dalam empat tahun terakhir dan meningkatkan volatilitas pasar energi.
Kenaikan harga gas ikut menyeret komoditas energi lain. Data
Trading Economics menunjukkan harga batubara naik 7,23% menjadi US$ 138 per ton pada Selasa (3/3), dari US$ 128 per ton sehari sebelumnya. Secara bulanan, harga batubara telah melesat 18,86%. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai lonjakan ini dipicu eskalasi konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat dengan Iran, serta adanya serangan terhadap kilang-kilang gas di Qatar. Pandangan senada disampaikan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono. Ia mengatakan ketegangan di kawasan produsen membuat pelaku pasar khawatir pada kesinambungan pasokan. "Curah hujan tinggi di Australia atau Indonesia dapat menghambat produksi dan pengiriman, yang secara otomatis mengerek harga global," ujarnya, Rabu (4/3/2026). Selain faktor cuaca, arah harga juga dipengaruhi kebijakan kuota dan meningkatnya permintaan pembangkit listrik dari China dan India sebagai konsumen terbesar. Di saat yang sama, lonjakan harga LNG mendorong pembangkit beralih kembali ke batu bara, sehingga permintaan naik.
Wahyu menegaskan, kenaikan harga batubara bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, kondisi ini berpotensi memperlebar margin dan menopang saham emiten batu bara seperti ADRO, ITMG, dan PTBA, sekaligus menambah devisa negara produsen. Namun di sisi lain, harga energi fosil yang mahal dapat meningkatkan biaya pokok listrik di negara yang belum memiliki skema Domestic Market Obligation (DMO) yang kuat, sehingga berisiko memicu inflasi energi. Harga fosil yang tinggi juga kerap menjadi katalis percepatan transisi industri menuju energi bersih yang lebih stabil secara harga. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News