Harga BBM AS Tembus US$4,50 per Galon, Konflik Iran Picu Gangguan Pasokan Global



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga rata-rata nasional bensin di Amerika Serikat (AS) menembus level US$4,50 per galon pada Selasa, untuk pertama kalinya sejak Juli 2022. Data dari GasBuddy menunjukkan lonjakan ini terjadi di tengah terganggunya pasokan minyak global akibat konflik antara AS dan Israel melawan Iran.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, telah menghambat pengiriman minyak dalam jumlah besar. Jalur laut tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi energi dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak global melintas setiap harinya sebelum konflik meningkat.

Lonjakan harga bahan bakar ini terjadi menjelang libur panjang Memorial Day di AS, yang menandai dimulainya musim puncak perjalanan musim panas. Kondisi ini menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.


Tanpa adanya deeskalasi konflik di Timur Tengah, para analis memperkirakan harga bahan bakar di AS berpotensi melampaui rekor sebelumnya. Berdasarkan data GasBuddy, harga rata-rata nasional bensin mencapai US$4,52 per galon pada Selasa sore waktu setempat.

Baca Juga: Iran Tegaskan Hanya Mau Kesepakatan Komprehensif dengan AS

Harga tersebut telah melampaui level US$4 sejak akhir Maret, yang terakhir kali terjadi pada Agustus 2022 pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Secara regional, negara bagian California mencatat harga tertinggi dengan rata-rata US$6,14 per galon.

Kenaikan harga bensin sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah global. Acuan minyak dunia Brent crude tercatat melonjak hingga 58% sejak konflik dimulai, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan di kawasan Teluk.

Analis GasBuddy, Patrick De Haan, menyebut bahwa penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi. “Penutupan Selat Hormuz terus secara perlahan mendorong harga minyak dan bensin lebih tinggi, ditambah adanya gangguan di sektor pengolahan yang memperparah kenaikan tersebut,” ujarnya.

Salah satu gangguan terjadi di kilang minyak milik BP di Whiting, Indiana, dengan kapasitas 440.000 barel per hari. Kilang tersebut sempat mengalami pemadaman listrik yang menyebabkan salah satu unit pengolahan berhenti beroperasi, meski kini telah kembali normal.

Menurut De Haan, jika Selat Hormuz tetap tertutup, harga bensin kemungkinan akan bertahan di atas US$4,50 per galon sepanjang musim panas.

Baca Juga: Reli Harga Minyak Sawit Diproyeksi Berlanjut Seiring Kenaikan Permintaan Biodiesel

Di sisi lain, laporan dari Morgan Stanley menunjukkan persediaan bensin AS mengalami penurunan lebih cepat dari pola musiman normal. Stok diperkirakan bisa turun di bawah 200 juta barel pada akhir Agustus, mendekati level terendah historis musim panas.

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok bensin AS turun lebih dari 6 juta barel dalam sepekan menjadi 222,3 juta barel per 24 April, terendah sejak Desember dan berada lebih dari 2 juta barel di bawah rata-rata musiman lima tahun.

Sementara itu, permintaan bensin tetap kuat. Dalam rata-rata empat minggu, konsumsi mencapai 8,95 juta barel per hari, naik 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Morgan Stanley mencatat bahwa meski harga tinggi, permintaan belum cukup melemah untuk menahan penurunan stok yang dipicu oleh keterbatasan pasokan.

Di pasar berjangka, harga bensin AS diperdagangkan di kisaran US$3,64 per galon pada Selasa, mendekati level tertinggi sejak 2022, mencerminkan tekanan berkelanjutan di pasar energi global.