Harga BBM Industri Naik, Pengusaha Sawit Mengerem Ekspansi dan Tekan Biaya Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) industri mendorong pelaku usaha kelapa sawit mengubah strategi bisnis. Di tengah tekanan biaya operasional, perusahaan mulai menunda ekspansi dan fokus pada efisiensi produksi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan, harga BBM industri yang digunakan di sektor perkebunan kini telah melonjak hingga sekitar Rp 30.000 per liter, dari sebelumnya sekitar Rp 15.000 per liter.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada struktur biaya produksi crude palm oil (CPO). Meski demikian, pelaku usaha masih menghitung besaran kenaikan biaya produksi per ton akibat lonjakan harga energi tersebut.


Baca Juga: Sawit Sumbermas (SSMS) Percaya B50 Jadi Penopang Permintaan dan Katalis Positif CPO

“Untuk detail kenaikan biaya produksi masih kami hitung,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (3/5/2026).

Eddy menjelaskan, lonjakan harga BBM menjadi salah satu komponen biaya yang paling signifikan, selain pupuk. Kondisi ini memperbesar beban operasional di sektor hulu, terutama untuk aktivitas transportasi dan operasional alat berat di kebun.

Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri memilih menahan ekspansi. Rencana pembukaan kebun baru maupun pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) cenderung ditunda hingga kondisi lebih stabil.

“Kalau kondisi seperti sekarang, biasanya kita tunda dulu untuk investasi baru, karena masih banyak ketidakpastian. Kita tunggu kondisi stabil dulu,” jelasnya.

Sebagai gantinya, perusahaan mulai mengalihkan fokus pada efisiensi untuk menjaga margin usaha. Upaya yang ditempuh antara lain optimalisasi penggunaan BBM di operasional kebun, pengendalian biaya logistik, hingga penyesuaian penggunaan input produksi seperti pupuk.

Baca Juga: Danantara Jalankan 13 Proyek Hilirisasi, Ada Tambah Enam Proyek Baru Tahun Ini

Tekanan biaya ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kinerja ekspor. Berdasarkan laporan anggota GAPKI, volume ekspor sawit nasional pada periode Februari hingga Maret 2026 tercatat turun hingga 30%.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM industri juga tercermin dari penyesuaian harga di SPBU. Mulai 18 April 2026, PT Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamax Turbo dibanderol Rp 19.400 per liter, dari sebelumnya Rp 13.100 per liter. Harga Dexlite kini Rp 23.600 per liter, dari sebelumnya Rp 14.200 per liter. Sementara itu, harga Pertamina Dex menjadi Rp 23.900 per liter, dari sebelumnya Rp 14.500 per liter.

Sementara itu, SPBU swasta seperti BP-AKR dan Vivo Energy Indonesia kompak menaikkan harga BBM non-subsidi jenis diesel pada awal Mei 2026.

BP-AKR membanderol harga BP Ultimate Diesel sebesar Rp 30.890 per liter per 2 Mei 2026, naik dari sebelumnya Rp 25.560 per liter. Sementara itu, Vivo Energy Indonesia juga menaikkan harga Diesel Primus menjadi Rp 30.890 per liter per 1 Mei 2026, dari sebelumnya Rp 14.610 per liter pada Maret 2026.

Penyesuaian harga tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia, kondisi pasar, serta ketentuan yang berlaku di sektor energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News