Harga BBM Melonjak Imbas Perang Iran, Warga AS Harus Ubah Pola Hidup



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Lonjakan harga bahan bakar akibat perang Iran mulai dirasakan luas oleh masyarakat Amerika Serikat. Sejumlah warga mengaku harus mengubah pola hidup mereka untuk mengatasi kenaikan biaya energi yang semakin membebani.

Pat Ouedraogo, warga Boston, memilih mengurangi perjalanan jarak jauh, sementara calon mahasiswa hukum Skyler Burke rela menempuh jarak lebih jauh demi mendapatkan harga bensin yang lebih murah. Di Houston, pialang mobil David Wright bahkan beralih dari kendaraan boros bahan bakar ke mobil listrik.

Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran yang meluas di kalangan pengendara di seluruh AS, seiring harga bahan bakar mendekati rekor tertinggi akibat konflik Iran yang telah berlangsung selama enam pekan. Para pakar energi menyebut konflik ini sebagai gangguan pasokan minyak terburuk sepanjang sejarah, setelah fasilitas produksi utama terdampak dan jalur distribusi penting terganggu, termasuk di Selat Hormuz.


Baca Juga: Redam Ketegangan Selat Hormuz, Amerika Serikat Sepakat Cairkan Dana Iran di Qatar

“Saya merasa tidak berdaya menghadapi harga seperti ini,” ujar Ouedraogo saat mengisi bensin di sebuah SPBU, di mana harga mencapai US$ 4,99  per galon.

Data dari GasBuddy menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai US$ 4,16 per galon, sementara solar menyentuh US$ 5,67. Angka ini menjadi yang tertinggi menjelang musim liburan musim panas sejak gejolak pasar energi global akibat invasi Rusia ke Ukraina 2022.

Kenaikan harga tersebut diperkirakan menambah pengeluaran masyarakat AS hingga US$ 10,4 miliar untuk bensin dan solar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dampak paling terasa dirasakan oleh para pekerja sektor transportasi. Sopir truk asal Houston, Eddie Esquivel, mengaku pengeluaran mingguannya untuk solar hampir dua kali lipat, dari sekitar US$ 800–US$ 900 menjadi US$ 1.600–US$ 1.700. 

“Harga ini sangat memberatkan. Dulu solar sekitar US$ 2 per galon, sekarang bisa tembus US$ 6,” ujarnya.

Secara global, kenaikan harga bahan bakar dipicu oleh blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang menghambat pasokan minyak ke pasar Asia dan Eropa. Sebagai konsumen energi terbesar di dunia, perubahan harga BBM memiliki dampak signifikan terhadap kondisi ekonomi dan politik di Amerika Serikat.

Baca Juga: Cathay Pacific Pangkas Penerbangan Imbas Lonjakan Harga Bahan Bakar

Kenaikan harga ini juga mulai berdampak pada tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump, terutama menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Banyak warga menilai janji kampanye terkait penurunan biaya energi belum terealisasi.

Selain itu, data pemerintah AS menunjukkan tanda-tanda penurunan permintaan bahan bakar. Konsumsi bensin pada pekan sebelum Paskah tercatat hanya 8,6 juta barel per hari, turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kondisi ekonomi yang semakin berat juga terlihat dari meningkatnya transaksi pinjaman gadai hingga 9%, seiring harga bensin melampaui US$ 4 per galon.

Seorang warga Denver, Kari DyLong, mengaku harus mengurangi aktivitas di luar rumah karena sebagian besar penghasilannya kini terserap untuk biaya bahan bakar. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit setiap hari untuk bekerja.

“Saya lebih banyak di rumah sekarang karena pengeluaran untuk bensin semakin besar hanya untuk berangkat kerja,” katanya.

Meski pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung di Pakistan untuk mencapai gencatan senjata permanen, para analis memperkirakan harga minyak dan bahan bakar tidak akan segera kembali ke level sebelum perang.

Analis Rystad Energy, Wei Ren Gan, menyebut risiko geopolitik masih akan membayangi pasar energi. “Harga kemungkinan turun secara bertahap, tetapi tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum perang,” ujarnya.

Para analis juga memperkirakan sekitar 2 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak di Timur Tengah terganggu akibat konflik yang masih berlangsung, memperpanjang tekanan terhadap pasokan global.

Baca Juga: Delegasi AS Tiba di Pakistan, Negosiasi Damai dengan Iran Siap Dimulai