KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ratusan penumpang yang menjadikan kapal pesiar sebagai tempat tinggal permanen terpaksa turun di Kamboja setelah operator kapal menghentikan operasional akibat lonjakan biaya bahan bakar yang dipicu perang Iran. Kapal pesiar Villa Vie Odyssey, yang telah berlayar mengelilingi dunia selama sedikitnya 755 hari, mengumumkan penghentian operasional pada Selasa (27/10/2026). Perusahaan pemilik kapal, Villa Vie Residences, menyatakan akan menurunkan seluruh penumpang di Kamboja sembari mencari akomodasi sementara bagi mereka. Villa Vie Odyssey merupakan salah satu dari segelintir kapal pesiar yang menawarkan kesempatan kepada penumpang untuk menyewa atau membeli hunian jangka panjang, bahkan permanen, di atas kapal.
Dalam pernyataannya, Villa Vie Residences mengungkapkan bahwa biaya bahan bakar bulanan yang sebelumnya rata-rata sekitar US$ 1.800 per kabin kini melonjak menjadi sekitar US$ 6.000 hingga US$ 8.000 di sejumlah wilayah Asia. "Kami tidak bisa begitu saja membebankan kenaikan sebesar itu kepada para penghuni. Kekurangan pendapatan yang timbul akibat kondisi tersebut telah menempatkan model operasional perusahaan di bawah tekanan keuangan yang tidak lagi berkelanjutan," kata perusahaan tersebut.
Baca Juga: Filipina Jajaki Kerja Sama dengan Arab Saudi hingga AS untuk Cadangan Minyak Villa Vie Residences belum segera menanggapi permintaan komentar.
Ratusan penumpang terdampak penghentian operasional kapal pesiar
Villa Vie Odyssey memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 650 orang. Namun, sejumlah kamar di kapal tersebut masih dalam tahap pemasaran, termasuk kategori villa suites yang dibanderol seharga US$ 440.000. Sementara itu, unit hunian di bagian dalam kapal ditawarkan dengan harga US$ 120.000. Wakil Gubernur Provinsi Preah Sihanouk, Long Dimanche, mengatakan terdapat 203 penumpang dan 156 awak kapal saat kapal tersebut berada di Kamboja. Sebagian penumpang telah meninggalkan negara itu menggunakan pesawat. Sementara penumpang lainnya masih menunggu di Kota Pelabuhan Sihanoukville, menurut keterangan Long kepada media. Ia menambahkan, kapal tersebut dijadwalkan mengisi bahan bakar sebelum meninggalkan Kamboja pada Sabtu (31/10). Video yang diunggah para penghuni di media sosial memperlihatkan ketidakpastian dan kekecewaan setelah mereka menerima kabar penghentian operasional. Meski demikian, sebagian penumpang lainnya mengatakan akan memanfaatkan tambahan waktu tersebut untuk menjelajahi kawasan Asia Tenggara. Randy Cassingham, yang tinggal di Villa Vie Odyssey bersama istrinya dan menulis tentang pengalaman hidup di kapal pesiar melalui ResidentialCruising.com, mengatakan CEO Villa Vie Residences yang berbasis di Florida, Kathy Villalba, mengirimkan pemberitahuan kepada para penghuni sesaat setelah pukul 07.00 waktu Kamboja. Dalam pemberitahuan tersebut, para penghuni diminta turun dari kapal paling lambat pukul 14.00. Mereka juga diminta berkoordinasi dengan staf apabila tidak dapat memindahkan seluruh barang bawaan dalam batas waktu tersebut. Cassingham menilai penghentian operasional itu bukan sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan. "Ini merupakan rangkaian masalah yang terus menumpuk, mulai dari model bisnis, kesalahan manajemen, krisis biaya dan ketersediaan bahan bakar yang telah disebutkan, hingga berbagai persoalan lainnya," tulisnya.
Kenaikan biaya bahan bakar menekan keuangan perusahaan
Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari 2026, Villa Vie Residences telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Upaya tersebut antara lain memperlambat perjalanan kapal dan memperpanjang waktu singgah di pelabuhan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik di Atas 1% Setelah Serangan Kilang Arab Saudi Namun, langkah-langkah tersebut belum cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar yang disebut perusahaan sebagai luar biasa.
"Kami tidak mampu lagi menanggung kerugian operasional yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut," kata Villa Vie Residences dalam pernyataannya. Perusahaan berencana melakukan restrukturisasi dan menambah modal dalam 60 hari ke depan. Namun, hingga pengumuman tersebut disampaikan, belum ada kesepakatan pembiayaan yang difinalisasi. Penghentian operasional Villa Vie Odyssey memperlihatkan tekanan biaya yang dapat dihadapi bisnis pelayaran ketika harga bahan bakar meningkat tajam. Bagi perusahaan yang menawarkan hunian jangka panjang di atas kapal, kenaikan biaya operasional juga menjadi tantangan karena biaya tambahan dalam skala besar tidak dapat langsung dibebankan kepada penghuni. Ke depan, kemampuan Villa Vie Residences mendapatkan pendanaan baru dan menyusun kembali model bisnisnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan kelanjutan operasional kapal pesiar tersebut.