Harga BBM Meroket di 85 Negara, Inilah Negara yang Paling Terdampak Konflik Timteng



KONTAN.CO.ID - Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai memicu dampak ekonomi global. Salah satu yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara. Sejak serangan terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, setidaknya 85 negara melaporkan kenaikan harga bensin.

Lonjakan ini membuat pengendara di berbagai belahan dunia harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar.

Di AS sendiri misalnya, harga rata-rata bensin reguler yang pada Februari berada di angka 2,94 dollar AS per galon kini naik menjadi 3,58 dollar AS per galon, atau meningkat sekitar 20 persen. Data tersebut dihimpun oleh AAA Fuel Prices, lembaga pemantau harga bahan bakar dari American Automobile Association (AAA).


Meski harga BBM di AS ditentukan oleh masing-masing negara bagian, beberapa wilayah kini mencatatkan harga di atas 4 dollar AS per galon. Bahkan di California, harga bensin sudah melampaui 5 dollar AS per galon, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Negara dengan kenaikan harga bensin tertinggi

Berdasarkan analisis data dari Global Petrol Prices per Selasa (11/3/2026), platform yang memantau harga energi ritel di sekitar 150 negara, kenaikan harga bensin terjadi di puluhan negara sejak konflik pecah.

Beberapa negara bahkan mencatat lonjakan harga yang sangat tajam dalam waktu singkat.

Baca Juga: Dampak Serangan Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 92

Berikut 10 negara dengan kenaikan harga bensin tertinggi sejak perang dimulai:

Vietnam 23 Februari: 0,75 dollar AS per liter 9 Maret: 1,13 dollar AS per liter Kenaikan: 49,73 persen

Laos 1,34 → 1,78 dollar AS per liter Kenaikan: 32,94 persen

Kamboja 1,11 → 1,32 dollar AS per liter Kenaikan: 19,03 persen

Australia 1,11 → 1,31 dollar AS per liter Kenaikan: 18,23 persen

Amerika Serikat 0,87 → 1,01 dollar AS per liter Kenaikan: 16,55 persen

Jerman 2,08 → 2,36 dollar AS per liter Kenaikan: 13,3 persen

Baca Juga: Harga Emas Tertekan! Ini Pemicu Penurunan Si Kuning Mentereng

Seychelles 1,34 → 1,52 dollar AS per liter Kenaikan: 13,04 persen

Guatemala 1,04 → 1,17 dollar AS per liter Kenaikan: 12,9 persen

Lebanon 0,91 → 1,02 dollar AS per liter Kenaikan: 12,25 persen

Nigeria 0,59 → 0,66 dollar AS per liter Kenaikan: 11,78 persen

Vietnam menjadi negara dengan lonjakan harga tertinggi, hampir 50 persen, dalam waktu sekitar dua minggu. Namun angka tersebut diperkirakan belum mencerminkan kondisi sepenuhnya.

Sebab, beberapa negara biasanya menyesuaikan harga BBM pada akhir bulan sehingga kemungkinan kenaikan lanjutan bisa terjadi pada April.

Asia paling terdampak

Sebagaimana dilansir Al Jazeera, negara-negara Asia termasuk yang paling rentan terhadap lonjakan harga energi akibat konflik ini. Hal tersebut karena banyak negara di kawasan tersebut sangat bergantung pada pasokan minyak dan gas dari Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Selat ini merupakan satu-satunya jalur utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global.

Sejak perang pecah, jalur tersebut praktis terganggu.

Beberapa negara Asia Timur bahkan sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk. Jepang mengimpor sekitar 95 persen minyaknya dari wilayah tersebut, sementara Korea Selatan sekitar 70 persen.

Untuk mengantisipasi dampaknya, kedua negara telah mengambil langkah darurat.

Pada 8 Maret, pemerintah Jepang memerintahkan fasilitas penyimpanan minyak nasional untuk bersiap melepas cadangan strategis jika diperlukan.

Sementara sehari kemudian, Korea Selatan menetapkan batas harga maksimum untuk bensin dan solar, kebijakan yang baru pertama kali diterapkan dalam 30 tahun terakhir.

Dampak lebih berat di Asia Selatan dan negara maju juga khawatir

Dampak perang bahkan lebih terasa di negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan dan Bangladesh, yang memiliki cadangan energi lebih kecil dan kondisi keuangan yang lebih rapuh.

Pemerintah Bangladesh mengambil langkah drastis dengan menutup seluruh universitas negeri dan swasta untuk menghemat energi.

Sementara di Pakistan, pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan penghematan, seperti pekan kerja empat hari bagi kantor pemerintahan, penutupan sekolah, serta kebijakan 50 persen kerja dari rumah bagi pegawai.

Lonjakan harga energi bahkan pula membuat negara-negara maju khawatir. Para menteri keuangan negara G7 mengadakan pertemuan darurat untuk membahas kenaikan harga energi global.

Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan mengusulkan pelepasan 20–30 persen cadangan minyak strategis guna meredam tekanan harga bagi konsumen.

Harga minyak memicu kenaikan harga pangan

Lonjakan harga minyak biasanya juga diikuti kenaikan harga pangan. Hal ini karena energi memengaruhi hampir seluruh rantai pasok makanan, mulai dari produksi pupuk hingga distribusi bahan pangan ke pasar.

Biaya transportasi dan pengiriman juga ikut meningkat.

Ekonom David McWilliams mengatakan transportasi merupakan “urat nadi ekonomi global”.

“Transportasi adalah proses memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Pada akhirnya ini adalah persoalan logistik dan rantai pasok, dan energi adalah sumber penggerak ekonomi global,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Para ekonom kini juga mulai mengkhawatirkan potensi stagflasi, yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan meningkatnya pengangguran.

Sejarah menunjukkan lonjakan besar harga minyak sering diikuti krisis ekonomi global, seperti yang terjadi pada 1973, 1978, dan 2008.

Di negara-negara berpendapatan rendah, dampaknya bisa lebih parah karena masyarakat menghabiskan porsi pendapatan yang lebih besar untuk membeli makanan.

Jika harga minyak terus naik, kondisi tersebut berpotensi memicu krisis pangan di beberapa wilayah.

Tonton: Iran Hujani Israel 3 Jam Nonstop! Rudal Khorramshahr Dikerahkan Besar-Besaran

Minyak digunakan dalam ribuan produk

Selain bahan bakar, minyak dan gas juga menjadi bahan baku bagi ribuan produk sehari-hari.

Plastik seperti botol air minum, kemasan makanan, casing ponsel, hingga alat medis seperti jarum suntik berasal dari turunan minyak bumi.

Minyak juga digunakan untuk membuat serat sintetis seperti polyester, nylon, dan acrylic, yang banyak digunakan dalam pakaian olahraga hingga karpet.

Industri kosmetik pun bergantung pada minyak, misalnya untuk membuat petroleum jelly, lipstik, dan concealer.

Berbagai produk rumah tangga seperti deterjen, sabun cuci piring, dan cat juga berasal dari turunan minyak bumi.

Selain itu, gas alam menjadi bahan utama pembuatan pupuk yang sangat penting untuk meningkatkan produksi pangan global.

Karena itu, lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada harga bahan bakar, melainkan juga berpotensi memengaruhi hampir seluruh sektor ekonomi dunia.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/12/051500165/sudah-85-negara-naikkan-harga-bbm-imbas-perang-timteng-siapa-paling-parah-?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News