KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah pemerintah untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi hingga akhir tahun dinilai bermanfaat untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, selisih antara harga jual dan keekonomian yang melebar berisiko memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lewat subsidi dan kompensasi. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, dalam jangka pendek, kebijakan menahan harga memang masuk akal di tengah harga minyak dunia yang sempat mencapai US$ 105 sampai US$ 108 per barel dan kenaikan harga BBM nonsubsidi. "Masalahnya, asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 berada di sekitar US$ 70 per barel, sementara realisasi harga minyak sepanjang tahun jauh lebih tinggi," kata Yusuf kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Harga BBM Subsidi Ditahan, Risiko Tekanan APBN Membayangi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah pemerintah untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi hingga akhir tahun dinilai bermanfaat untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, selisih antara harga jual dan keekonomian yang melebar berisiko memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lewat subsidi dan kompensasi. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, dalam jangka pendek, kebijakan menahan harga memang masuk akal di tengah harga minyak dunia yang sempat mencapai US$ 105 sampai US$ 108 per barel dan kenaikan harga BBM nonsubsidi. "Masalahnya, asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 berada di sekitar US$ 70 per barel, sementara realisasi harga minyak sepanjang tahun jauh lebih tinggi," kata Yusuf kepada Kontan, Senin (14/9/2026).