Harga BBM turun, inflasi tak otomatis lebih rendah



JAKARTA. Pemerintah telah menurunkan harga bahan bakar (BBM) subsidi di awal tahun. Namun kebijakan ini diperkirakan tidak akan membuat tekanan inflasi secara serta merta turun. 

Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN menjelaskan, sejumlah harga barang masih tinggi sebagai imbas kenaikan harga BBM subdidi pada November 2014 lalu. Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, turunnya harga bbm tidak membawa dampak signifikan. Sebab, kenaikan harga BBM yang sebelumnya dilakukan pemerintah telah mendorong kenaikan harga. 

Oleh karena itu, maka penurunan harga BBM subsidi kali ini tidak akan membuat inflasi turun drastis. Hanya saja, Lana bilang, penurunan harga BBM akan membuat kelompok listrik, gas, air bersih dan bahan bakar akan mengalami deflasi. Namun begitu tarif transportasi tidak akan turun, karena dampak kenaikan harga BBM sebelumnya. "Kalau kenaikan harga bahan makanan lebih dikarenakan distribusi yang lama, panen dan cuaca hujan" ujar Lana kepada KONTAN,


Ekonom BCA David Sumual juga berpendapat penurunan harga BBM sebesar Rp 900 tidak secara langsung membuat harga barang turun. Menurutnya, sebab para pelaku pasar yang masih melihat perkembangan cuaca dan rupiah. Ia menggambarkan bahwa di sepanjang tahun 2015, inflasi masih akan berada di titik lemah. "Akhir 2015 inflasi berada di bawah 5%," tutur David.

Menurutnya inflasi akan semakin bergerak ke bawah jika harga minyak mentah dunia mengarah ke US$ 40 per barren atau lebih rendah lagi. Dia memproyeksikan, tren inflasi akan semakin turun seiring dengan masuknya panen raya di bulan Februari hingga April 2015. 

Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Dodi Arifianto menilai, penurunan penurunan harga BBM subsidi akan meningkatkan konsumsi akan bahan bakar tersebut. "Turunnya harga BBM seharusnya berdampak pada turunnya harga tarif transportasi," katanya. Dengan harga BBM yang turun sekitar Rp 900 per liter, maka efek ke inflasi turun 0,08%-1%. "Jadi secara keseluruhan akhir tahun 2015, inflasi berada di angka 4.9% dengan rata-rata 7.2%" kata Dodi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa