Harga benih naik, Ewindo tidak takut pasar hilang



JAKARTA. PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menaikkan harga jual produk benih hortikultura miliknya rata-rata 5%. Kenaikan harga pada tahun ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi.

Glen Pardede, Managing Director East West Seed Indonesia mengatakan, kenaikan harga benih Ewindo disebabkan karena faktor inflasi. Inflasi telah membuat biaya produksi benih meningkat sehingga mau tak mau harus ada kenaikan harga. Kenaikan harganya beragam. "Ada yang naik di atas 5%, di bawah 5%, tapi rata-rata kenaikan 5%," katanya, Selasa (16/4).

Glen mengatakan beberapa benih hortikultura yang mengalami kenaikan harga di atas 5% adalah tomat, cabai, dan melon. Sedangkan untuk produk benih hortikultura yang kenaikannya di bawah 5% adalah kangkung, kacang panjang dan buncis.


Meski telah menaikkan harga, Glen mengaku tidak khawatir penjualan bakal menurun. Bahkan menurut Glen,  penjualan benih Cap Panah Merah mengalami kenaikan 5% hingga 7% pada kuartal I tahun ini.

Kenaikan penjualan terjadi karena pembatasan impor produk hortikultura, sehingga membuat petani bergairah menanam. "Penjualan Ewindo sepanjang kuartal I-2013 tetap on track bahkan lebih tinggi dibanding kuartal pertama 2012," kata Glenn.

Selama tiga bulan pertama tahun ini, penjualan Ewindo paling tinggi adalah untuk benih wortel dan cabai. Bahkan menurut Glen, jika tahun lalu perusahaannya tidak berhasil menjual benih bawang merah maka awal tahun ini benih bawang merah mampu meraup pasar yang cukup besar

Karena permintaan dalam negeri naik, produsen benih lokal juga menaikkan kapasitas produksi. Pasalnya, selama ini petani juga mendapatkan pasokan benih impor.  Glen mengaku, perusahaannya sudah mengurangi sekitar 50% ketergantungan benih impor.

Sampai dengan 2013, Ewindo telah bermitra dengan sekitar 7.000 petani produksi benih yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Selain itu, Ewindo juga membina lebih dari 10 juta petani yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hingga saat ini, Ewindo telah menghasilkan sebanyak 170 varietas benih unggul.

Data Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura (Hortindo) menunjukkan, kebutuhan benih hortikultura tahun ini diperkirakan bakal naik dari 13.000 ton pada tahun lalu menjadi 14.300 ton. Pada tahun lalu, benih hortikultura yang paling laris dibeli adalah benih kubis senilai Rp 60 miliar dan benih tomat yang menciptakan pasar senilai Rp 30 miliar.

Glen yang juga Ketua Asosiasi Bunga Indonesia ini menambahkan, pemerintah berniat mengeluarkan bunga crissant, heliconia, dan anggrek dari daftar pembatasan impor. "Tidak masalah karena permintaan crissant dan heliconia tidak terlalu besar. Yang bermasalah adalah anggrek," katanya.

Selain dua jenis bunga itu, pemerintah juga akan berencana mengeluarkan bawang putih dan kubis dari daftar pembatasan impor. "Ini baru rencana, masih bisa direvisi," kata Yazid Taufik, Pelaksana Harian (Plh) Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kemtan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa