Harga Bensin AS Tembus US$3 per Galon, Konflik Iran Uji Elektabilitas Trump



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Rata-rata harga bensin ritel di Amerika Serikat (AS) menembus level US$3 per galon untuk pertama kalinya sejak November pada Senin (2/3), seiring memburuknya konflik di Timur Tengah.

Kenaikan ini dinilai menjadi ujian penting bagi dukungan publik terhadap keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang melancarkan serangan terhadap Iran.

Analis menilai, lonjakan harga energi berpotensi menjadi faktor sensitif menjelang pemilu sela (midterm) pada November mendatang. Pasalnya, tekanan biaya hidup masih dirasakan banyak warga AS, terutama untuk kebutuhan harian seperti bahan bakar.

Pasokan Global Terganggu, Harga Minyak Melonjak


Teheran membalas serangan AS dan Israel dengan menargetkan fasilitas produksi di negara-negara tetangga serta kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. Gangguan tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Baca Juga: Timur Tengah Panas, IMF: Masih Terlalu Dini Menilai Dampak ke Ekonomi Global

Harga minyak mentah pun meroket. Minyak Brent tercatat melonjak lebih dari 5% hingga mendekati US$77 per barel. Kenaikan harga minyak sebagai bahan baku langsung mendorong harga bahan bakar di tingkat ritel.

Setiap kenaikan US$10 per barel harga minyak mentah diperkirakan akan meningkatkan harga bensin sekitar 25 sen per galon di tingkat konsumen. Analis juga mengingatkan bahwa gangguan operasional kilang dapat memicu lonjakan harga yang lebih besar.

Risiko Politik Jelang Pemilu Sela

Lonjakan harga bensin menjadi risiko politik signifikan bagi Trump dan Partai Republik. Dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos, hampir separuh responden menyatakan akan lebih kecil kemungkinannya mendukung kebijakan Trump terhadap Iran jika harga minyak dan bensin di AS terus naik.

“Harga bensin memiliki dampak psikologis yang kuat. Itu adalah angka inflasi yang dilihat konsumen setiap hari,” ujar Mark Malek, Chief Investment Officer Siebert Financial.

Data OPIS menunjukkan rata-rata harga bensin ritel telah melampaui US$3 per galon pada Senin. Tom Kloza, penasihat senior pemasok bahan bakar Gulf Oil, memperkirakan harga dapat naik hingga US$3,25 per galon dalam pekan ini jika krisis berlanjut.

Tekanan Musiman dan Regulasi Lingkungan

Sebelum serangan terhadap Iran, harga bensin AS sebenarnya telah naik selama empat pekan berturut-turut, menurut data GasBuddy. Kenaikan tersebut terjadi karena kilang mulai beralih ke produksi bahan bakar musim panas (summer-grade), yang diwajibkan oleh regulasi lingkungan dan memiliki biaya produksi lebih tinggi dibandingkan bahan bakar musim dingin.

Baca Juga: Serangan AS-Israel Picu Ketidakpastian Partisipasi Iran di Piala Dunia 2026

Analis GasBuddy, Patrick De Haan, menilai konflik geopolitik saat ini akan memperparah tren kenaikan musiman tersebut.

“Dalam sepekan ke depan, harga bensin kemungkinan akan menghadapi tekanan kenaikan yang lebih tinggi seiring tren musiman berlanjut dan pasar menavigasi lanskap geopolitik yang terus berkembang,” ujarnya.

Dampak ke Inflasi dan Daya Beli

Kenaikan harga bahan bakar berpotensi memperburuk inflasi dan menekan daya beli masyarakat AS. Selain berdampak langsung pada konsumen, lonjakan harga energi juga dapat meningkatkan biaya distribusi barang dan jasa secara luas.

Dengan situasi geopolitik yang belum mereda dan risiko gangguan pasokan yang masih tinggi, pasar energi global diperkirakan tetap volatil dalam jangka pendek. Perkembangan konflik di Timur Tengah akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga minyak dan bensin dalam beberapa pekan mendatang.