KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan di pasar aset kripto masih berlanjut hingga akhir pekan ini. Pada Jumat (6/2) pukul 18.30 WIB, harga Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 5% dan berada di level US$ 65.940. Dengan posisi tersebut, bitcoin sudah ambles 28% secara bulanan. Tak hanya itu saja, aset kripto lain seperti Ethereum (ETH) juga jatuh hingga 6,5% ke US$ 1.924. Dengan level tersebut, ETH sudah anjlok 40% dalam sebulan terakhir. Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai koreksi pada Bitcoin dan Ethereum saat ini masih berada dalam tekanan
bearish, dipengaruhi oleh kombinasi sentimen makro global, pengetatan likuiditas, serta efek likuidasi besar di pasar derivatif.
Meski demikian, ia menilai koreksi ini tidak serta-merta akan berlangsung sangat lama.
Baca Juga: Pasar Kripto Tertekan Aksi Jual, Bitcoin dan Ethereum Terpuruk “Karena pasar sudah mulai memasuki kondisi rapuh dan mendekati area
support penting yang berpotensi memicu
relief bounce atau pemantulan sementara dalam waktu dekat,” ujarnya Fyqieh kepada Kontan, Jumat (6/2/2026). Menurut Fyqieh, fluktuasi tinggi pada Bitcoin dan Ethereum terutama dipicu oleh sentimen
risk-off global yang mendorong investor melepas aset berisiko secara bersamaan. Pergerakan harga kripto juga terlihat semakin selaras dengan pasar keuangan tradisional. “Pergerakan BTC dan ETH terlihat sangat mengikuti pelemahan pasar tradisional, tercermin dari korelasi yang tinggi dengan indeks S&P 500 dan juga emas," lanjutnya. Maka, menurutnya ini menunjukkan tekanan di kripto lebih banyak dipengaruhi faktor makro dan perubahan selera risiko investor, bukan semata faktor internal kripto. Tekanan tersebut semakin kuat seiring kekhawatiran pengetatan likuiditas global, terutama setelah Bank of Japan (BOJ) memberikan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan untuk meredam inflasi. Kondisi ini menambah beban bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Baca Juga: OJK Optimistis Target Penghimpunan Dana Pasar Modal Rp 250 Triliun Tercapai pada 2026 Ada pun Fyqieh memperkirakan koreksi masih berpotensi berlanjut hingga pasar memperoleh kepastian bahwa tekanan makro mulai mereda. Sejumlah katalis yang berpeluang mendorong penguatan kembali Bitcoin dan Ethereum antara lain stabilisasi pasar saham global, khususnya indeks S&P 500, meredanya penguatan dolar AS yang tercermin dari indeks DXY, serta berkurangnya tekanan likuidasi di pasar derivatif yang ditandai dengan normalnya
funding rate. Di tengah volatilitas yang tinggi, Fyqieh menyarankan investor kripto untuk lebih mengedepankan manajemen risiko. Ia menekankan agar investor menghindari penggunaan
leverage berlebihan karena kondisi pasar saat ini rawan memicu
liquidation cascade, sebagaimana tercermin dari tingginya likuidasi posisi
long. “Strategi defensif seperti mengurangi eksposur pada aset yang lebih volatil atau menahan porsi kas dan stablecoin sementara waktu bisa menjadi langkah yang lebih aman,” katanya. Bagi investor jangka menengah hingga panjang, akumulasi bertahap atau
dollar cost averaging (DCA) dapat dipertimbangkan apabila harga mampu bertahan di area
support, sambil menunggu sinyal pemulihan yang lebih jelas.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 4,73% Sepekan, Ini Pemicunya Untuk di semester I 2026 Fyqieh melihat selama harga Bitcoin masih bertahan di atas support US$ 63.543, peluangnya lebih mengarah pada rebound teknikal ke kisaran US$ 66.600 - US$ 67.900. Namun, jika level tersebut jebol, risiko penurunan lanjutan ke sekitar US$ 62.875 tetap terbuka. Terkait kemungkinan BTC kembali ke bawah US$ 50.000, Fyqieh menilai skenario tersebut masih mungkin terjadi di tengah tekanan pasar, meski bukan menjadi skenario utama saat ini karena area support yang diuji masih berada jauh di atas level tersebut.
Sementara untuk Ethereum, selama harga mampu bertahan di zona US$ 1.850 - US$ 1.900, terdapat peluang pemantulan ke sekitar US$ 2.000. Namun, jika area tersebut ditembus, ETH berisiko melanjutkan pelemahan ke kisaran US$ 1.750.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News