KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin diperkirakan masih akan jatuh lebih dalam dan berpotensi turun hingga US$ 10.000, menurut peringatan analis Bloomberg Intelligence, Mike McGlone. Prediksi tersebut muncul setelah Bitcoin sudah anjlok sekitar 20% dalam dua pekan terakhir dan kini diperdagangkan di kisaran US$76.500. Secara keseluruhan, Bitcoin telah turun sekitar 40% dari rekor tertingginya yang tercatat pada Oktober lalu. “Surga bagi trader, 2026 bisa mengingatkan kita pada krisis 2008 atau 2000–2001,” tulis McGlone di LinkedIn seperti yang dilansir DL News. Sentimen negatif ini muncul di tengah aksi jual besar-besaran di berbagai kelas aset, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed). Penunjukan ini memicu tekanan di sektor teknologi. Saham Microsoft, misalnya, anjlok dengan nilai kapitalisasi pasar turun sekitar US$ 357 miliar, menjadi salah satu aksi jual terbesar dalam satu sesi perdagangan sepanjang sejarah. Warsh dikenal sebagai figur hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneter. Ia selama ini mengkritik kebijakan uang longgar The Fed dan dipandang akan lebih agresif dalam memerangi inflasi. Meski ia pernah mendukung intervensi The Fed saat krisis keuangan global 2008, Warsh juga mendorong agar kebijakan darurat tersebut segera dihentikan setelah kondisi membaik. Baca Juga: Mengejutkan! Sumber FBI Klaim Jeffrey Epstein Kelola Kekayaan Vladimir Putin Langkah Trump ini dinilai sebagai perubahan sikap, mengingat sebelumnya ia kerap mendorong suku bunga yang lebih rendah. The Fed yang lebih hawkish berarti peluang pemangkasan suku bunga menjadi lebih sedikit dan lebih lambat, sehingga likuiditas di pasar berkurang. Kondisi ini berpotensi menekan harga aset berisiko seperti Bitcoin, saham, dan bahkan emas. Namun, perlu dicatat, Warsh masih harus mendapat persetujuan Senat AS, dan kebijakan suku bunga tetap akan ditentukan bersama para gubernur The Fed lainnya.
Harga Bitcoin Diprediksi Anjlok ke US$ 10.000, Ini Biang Keroknya
KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin diperkirakan masih akan jatuh lebih dalam dan berpotensi turun hingga US$ 10.000, menurut peringatan analis Bloomberg Intelligence, Mike McGlone. Prediksi tersebut muncul setelah Bitcoin sudah anjlok sekitar 20% dalam dua pekan terakhir dan kini diperdagangkan di kisaran US$76.500. Secara keseluruhan, Bitcoin telah turun sekitar 40% dari rekor tertingginya yang tercatat pada Oktober lalu. “Surga bagi trader, 2026 bisa mengingatkan kita pada krisis 2008 atau 2000–2001,” tulis McGlone di LinkedIn seperti yang dilansir DL News. Sentimen negatif ini muncul di tengah aksi jual besar-besaran di berbagai kelas aset, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed). Penunjukan ini memicu tekanan di sektor teknologi. Saham Microsoft, misalnya, anjlok dengan nilai kapitalisasi pasar turun sekitar US$ 357 miliar, menjadi salah satu aksi jual terbesar dalam satu sesi perdagangan sepanjang sejarah. Warsh dikenal sebagai figur hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneter. Ia selama ini mengkritik kebijakan uang longgar The Fed dan dipandang akan lebih agresif dalam memerangi inflasi. Meski ia pernah mendukung intervensi The Fed saat krisis keuangan global 2008, Warsh juga mendorong agar kebijakan darurat tersebut segera dihentikan setelah kondisi membaik. Baca Juga: Mengejutkan! Sumber FBI Klaim Jeffrey Epstein Kelola Kekayaan Vladimir Putin Langkah Trump ini dinilai sebagai perubahan sikap, mengingat sebelumnya ia kerap mendorong suku bunga yang lebih rendah. The Fed yang lebih hawkish berarti peluang pemangkasan suku bunga menjadi lebih sedikit dan lebih lambat, sehingga likuiditas di pasar berkurang. Kondisi ini berpotensi menekan harga aset berisiko seperti Bitcoin, saham, dan bahkan emas. Namun, perlu dicatat, Warsh masih harus mendapat persetujuan Senat AS, dan kebijakan suku bunga tetap akan ditentukan bersama para gubernur The Fed lainnya.
TAG: