Harga Bitcoin Melemah Selama Pemilu Sela AS, Demokrat Bisa Ganggu Regulasi Kripto



KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin mengalami tekanan menjelang pemilu sela Amerika Serikat (AS) setelah muncul kekhawatiran bahwa Partai Demokrat berpeluang menguasai Kongres.

Perubahan peta politik tersebut dinilai dapat menghambat agenda regulasi aset kripto yang selama ini didukung industri dan pemerintahan Presiden Donald Trump.


Berdasarkan laporan Bloomberg, Bitcoin sempat melemah hingga 1,6% dalam perdagangan di Asia pada Rabu (4/11).

Pada pukul 10.30 waktu Singapura, aset kripto terbesar di dunia tersebut diperdagangkan di kisaran US$76.600 atau sekitar Rp1,39 miliar per keping.

Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi pasar kripto yang masih menghadapi tekanan setelah peretasan Binance senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114,4 triliun pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: Donald Trump Kehilangan Kendali Kongres AS, Demokrat Raih Kemenangan Bersejarah

Kemenangan Demokrat di Kongres AS Picu Kekhawatiran

Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan Bitcoin adalah meningkatnya taruhan pasar terhadap kemungkinan Partai Demokrat menguasai Kongres AS dalam pemilu sela.

Demokrat sebelumnya diperkirakan memiliki peluang besar untuk mengambil alih mayoritas kursi House of Representatives atau DPR AS.

Partai tersebut juga berpeluang menguasai Senat, sehingga dapat menciptakan perbedaan posisi politik dengan pemerintahan Donald Trump yang berasal dari Partai Republik.

Jika Demokrat menguasai Kongres, pembahasan regulasi kripto yang didukung industri berpotensi tertunda dan pengawasan terhadap perusahaan aset digital dapat menjadi lebih ketat.

Kondisi tersebut turut memengaruhi sentimen pasar karena investor mempertimbangkan kemungkinan perubahan arah kebijakan pemerintah AS terhadap industri kripto.

Baca Juga: Demokrat Menang Telak dalam Pemilu Sela AS, Saham Global Menguat dan Dolar Melemah

Regulasi Kripto AS Terancam Tertunda

Bloomberg melihat, kekhawatiran investor juga berkaitan dengan nasib Clarity Act, salah satu rancangan undang-undang yang dinilai penting bagi industri aset kripto AS.

Dalam laporan tersebut, Clarity Act disebut telah mengalami kebuntuan pembahasan di Senat.

Perubahan penguasaan komite di Kongres berpotensi membuat pembahasan rancangan aturan tersebut harus dinegosiasikan ulang, bukan langsung dilanjutkan.

Analis BTC Markets, Rachael Lucas, menilai perubahan kendali politik kemungkinan akan memengaruhi proses pembahasan regulasi tersebut.

"Dengan Clarity Act yang sudah terhenti di Senat, perubahan kendali komite kemungkinan besar akan membuat aturan tersebut dinegosiasikan ulang, bukan langsung dihidupkan kembali. Pasar juga sebagian besar sudah memperhitungkan kemungkinan tersebut," ujar Lucas, dikutip The Business Times.

Sementara itu, Chief Investment Officer Ericsenz Capital, Damien Loh, menggambarkan sentimen pasar kripto dalam jangka pendek sebagai ketakutan moderat dan ketidakpastian dalam jangka panjang.

"Sentimen jangka pendek menunjukkan ketakutan karena pasar kripto masih mengikuti pergerakan aset berisiko secara keseluruhan. Ditambah aksi jual saham teknologi dan kemungkinan dimulainya kembali perang di Timur Tengah, kondisi tersebut memberikan tekanan ke bawah," kata Loh.

Baca Juga: Partai Demokrat Menang Pemilu Sela, Harga Emas Melonjak