Harga Bitcoin Terkoreksi 4,28% ke Level US$ 59.800, Tertekan Data Inflasi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) melaporkan bahwa indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Mei 2026 naik 4,1% secara tahunan, tertinggi sejak April 2023. Dengan demikian nilai inflasi tersebut kini semakin jauh melampaui target resmi The Fed di angka 2%. 

Core PCE, yang mengecualikan pangan dan energi, juga meningkat dari 3,3% menjadi 3,4%. Sebagian besar lonjakan inflasi ini dipicu kenaikan harga energi yang berkaitan dengan konflik di Iran, yang perlahan merambat ke sektor-sektor ekonomi lainnya. 

Fahmi Almuttaqin, Analis Reku mengatakan bahwa pasar langsung merespons. Mengutip Coin Market Cap, Bitcoin turun 1,67% dalam 24 jam terakhir ke level sekitar US$ 59.872 pada Jumat (26/6). Dalam sepekan, harga Bitcoin telah turun 4,28%. 


Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,07% ke Rp 17.955 per Dolar AS pada Jumat (26/6) Siang

Di pasar saham AS, Nasdaq turun hampir 4% dalam sepekan dan S&P 500 melemah sekitar 1,73%, dengan tekanan paling terasa di sektor teknologi dan semikonduktor. Fahmi menilai data ini mengubah peta ekspektasi pasar secara fundamental.

“Pasar selama ini masih menggantungkan harapan pada kemungkinan pemangkasan suku bunga. Sekarang skenario itu tidak hanya ditunda, tapi digantikan dengan potensi kenaikan. Perubahan ekspektasi seperti ini yang biasanya menggerakkan pasar lebih tajam dari perubahan kebijakan itu sendiri,” ujar Fahmi kepada Kontan, Jumat (26/6/2026). 

Fahmi menyebut rilis data berikutnya yang perlu dicermati adalah laporan pekerjaan AS (NFP) pada 2 Juli 2026. Jika pasar tenaga kerja AS terbukti masih kuat, skenario kenaikan suku bunga September akan semakin menguat dan bisa memberi tekanan lanjutan pada pasar saham maupun kripto. 

Fahmi juga menyoroti rapat FOMC pada 16-17 Juni 2026. Dalam rapat tersebut, The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh memilih menahan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Namun yang lebih diperhatikan pasar adalah perubahan nada kebijakannya. The Fed merevisi proyeksi inflasi PCE dari 2,7% menjadi 3,6%, menghapus seluruh forward guidance soal pemangkasan suku bunga, dan menggantinya dengan sinyal kemungkinan kenaikan. Kini 9 dari 18 anggota komite memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026, dengan median proyeksi suku bunga akhir tahun di 3,8%. 

Baca Juga: IHSG Anjlok 2,73% ke 5.835 pada Sesi I Jumat (26/6), CUAN, DEWA, HRTA Top Losers LQ45

Sebab itu, penguatan dolar AS akibat ekspektasi hawkish The Fed berpotensi memberi tekanan tambahan pada rupiah dan aset-aset berisiko berbasis rupiah. Dalam kondisi ini, strategi position sizing yang konservatif, diversifikasi lintas aset, dan pemahaman mendalam terhadap fundamental setiap aset menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Kuartal III – 2026 juga disebut sebagai momentum konvergensi yang belum pernah dihadapi pasar dalam beberapa tahun terakhir. Kuartal ini bukan saat yang tepat untuk menambah eksposur secara agresif. Tapi bagi investor yang sudah memiliki posisi, disiplin dan diversifikasi adalah dua hal yang paling melindungi portofolio dalam kondisi seperti ini. 

“Pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga September, tapi ketidakpastian inflasi masih terlalu tinggi untuk memberikan kepastian. Investor perlu siap menghadapi skenario di mana kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih dari sekali,” jelas Fahmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News