Harga Cabai Rawit Merah Melonjak, Ikappi Minta Pemerintah Perkuat Distribusi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga cabai rawit merah mulai melonjak menjelang akhir September 2026. 

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat harga cabai rawit merah kini telah mencapai Rp76.000-Rp77.000 per kilogram (kg).

Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, mengatakan kenaikan harga cabai menjadi salah satu perkembangan yang perlu diwaspadai menjelang pergantian bulan. Selain cabai, harga ayam juga mulai mengalami kenaikan.


Baca Juga: Posbankum Selesaikan 14.000 Kasus, Negara Bisa Hemat Anggaran Rp 1,2 Triliun

“Memang beberapa komoditas yang menjelang akhir bulan September ini mengalami lonjakan, terutama cabai rawit merah yang telah menyentuh angka Rp76.000 sampai dengan Rp77.000 per kilo,” kata Reynaldi kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).

Reynaldi mencatat harga ayam berada di kisaran Rp40.500-Rp41.000 per kg. Sementara itu, harga telur ayam masih relatif stabil di sekitar Rp26.500 per kg.

Menurut Ikappi, sejumlah komoditas lain seperti bawang-bawangan, minyak goreng, dan beras masih cenderung stabil. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menutup risiko kenaikan harga pangan dalam waktu dekat.

Reynaldi mengatakan, kenaikan harga cabai terutama dipengaruhi kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang. Kondisi tersebut berdampak terhadap produksi di sejumlah sentra pertanian cabai.

“Pemicunya tentu memang musim kemarau yang cukup panjang. Sehingga sentra-sentra pertanian terutama cabai ini banyak mengalami gagal panen,” ujarnya.

Dia memperkirakan tekanan harga dapat berlanjut apabila musim kemarau tidak segera berakhir. Bahkan, kondisi tersebut berpotensi membuat kegagalan panen meluas ke komoditas pangan lainnya.

Oleh karena itu, Ikappi mendorong pemerintah mengoptimalkan distribusi pangan dari wilayah yang masih surplus menuju daerah dengan tingkat konsumsi tinggi. 

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus meredam tekanan harga.

“Harus ada alternatif pengganti, ya solusinya sentra-sentra yang masih memungkinkan untuk didistribusikan dari wilayah-wilayah yang surplus ke wilayah-wilayah yang konsumsinya tinggi,” lanjut Reynaldi.

Ia menilai distribusi tersebut penting terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Pasokan dari daerah surplus diharapkan dapat menjadi penyangga ketika produksi di sentra utama mengalami gangguan.

Memasuki Oktober, Reynaldi juga meminta pemerintah meningkatkan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pedagang pasar, untuk memantau perkembangan harga secara lebih cepat.

Menurutnya, pemantauan harga secara aktual di pasar diperlukan untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga pangan menjelang periode Natal dan Tahun Baru.

“Pemerintah harus lebih intens melaksanakan rapat koordinasi dengan seluruh stakeholder terutama kami Ikatan Pedagang Pasar Indonesia agar bisa memberikan laporan terkini, laporan update harga real time di pasar,” ujarnya.

Selain menjaga distribusi, Ikappi menilai, pemerintah perlu memastikan ketersediaan stok dan cadangan pangan pemerintah mencukupi untuk menghadapi potensi peningkatan permintaan pada akhir tahun.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Diperkirakan Surplus US$ 770 Juta Pada Agustus 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News