KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga cocoa butter yang masih bertahan di level tinggi mendorong industri makanan dan cokelat mencari alternatif bahan baku yang lebih efisien. TransGraph Consulting menilai tren penggunaan Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) berbasis minyak sawit akan terus meningkat seiring tingginya biaya produksi kakao global. Chairman dan Managing Director TransGraph Consulting Nagaraj Meda mengatakan harga cocoa butter diperkirakan masih berada di kisaran US$ 8.000 hingga lebih dari US$ 10.000 per metrik ton. Bahkan pada kuartal III 2026, harga cocoa butter diproyeksikan mencapai sekitar US$ 12.150 per metrik ton.
Baca Juga: El Nino Berpotensi Pangkas Produksi Kakao Hingga 5%, Indonesia Masih Bergantung Impor Kondisi tersebut membuat produsen makanan dan cokelat semakin banyak memanfaatkan CBE maupun CBS sebagai bahan baku alternatif karena harganya jauh lebih kompetitif. "Harga cocoa butter yang tinggi telah mempercepat penggunaan komersial Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS), baik oleh perusahaan makanan global maupun produsen makanan olahan di Indonesia," ujar Nagaraj kepada
Kontan usai menghadiri 9th Indonesian International Cocoa Conference (IICC) di Jakarta. Menurut dia, CBE dan CBS diperdagangkan dengan harga sekitar US$ 1.200 hingga US$ 4.500 per metrik ton, sehingga mampu membantu industri menekan biaya produksi di tengah mahalnya harga cocoa butter. Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Ketersediaan bahan baku tersebut membuat industri dalam negeri memiliki peluang lebih besar mengembangkan lemak spesialis berbasis sawit sebagai pengganti sebagian penggunaan cocoa butter. "Di Indonesia terdapat teknologi yang memungkinkan minyak sawit diolah menjadi cocoa
butter equivalent maupun cocoa butter substitute. Kebijakan pemerintah pada dasarnya sudah mendukung pengembangan industri ini," katanya. Di sisi lain, Nagaraj menilai tantangan utama industri kakao nasional masih berada di sektor hulu. Produksi kakao Indonesia saat ini diperkirakan hanya sekitar 200.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan industri pengolahan telah mencapai sekitar 440.000 hingga 450.000 ton per tahun. Akibatnya, sekitar separuh kebutuhan bahan baku industri masih harus dipenuhi melalui impor dari Pantai Gading, Ghana, maupun Ekuador. Menurutnya, peningkatan produktivitas kebun menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi ketergantungan impor.
Baca Juga: PSEL Legok Nangka Diresmikan, DPR Ingatkan Pemda Alokasikan 3% APBD Infrastruktur Saat ini produktivitas kakao Indonesia diperkirakan hanya sekitar 0,14 ton per hektare. Angka tersebut masih jauh di bawah sejumlah negara produsen utama sehingga diperlukan program peremajaan tanaman, penggunaan varietas tahan penyakit, serta peningkatan produktivitas hingga setidaknya 0,30 ton per hektare. Sementara itu, TransGraph memproyeksikan pasar kakao global masih akan dibayangi volatilitas harga hingga musim tanam 2026/2027. Produksi dunia diperkirakan turun menjadi sekitar 4,87 juta metrik ton, sehingga surplus pasokan menyusut menjadi sekitar 80.000 metrik ton. Apabila dampak El Niño semakin kuat, surplus yang tipis tersebut berpotensi kembali berubah menjadi defisit dan menjaga harga kakao tetap tinggi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News