KONTAN.CO.ID - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan bertahan di atas 4.600 ringgit Malaysia atau setara US$ 1.128 per ton pada November 2026. Permintaan ekspor yang menguat, konsumsi biodiesel yang berkelanjutan, serta penurunan produksi musiman menjadi faktor penopang harga. Mengutip
Reuters, Kamis (22/10/2026), Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyatakan, persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan mulai menurun pada November 2026 hingga Februari 2027 seiring berkurangnya produksi.
Baca Juga: Peretas China Diduga Bobol ConnectWise, Sektor Keuangan hingga Energi Dibidik Penurunan stok tersebut diperkirakan memberikan dukungan tambahan bagi harga CPO pada kuartal IV-2026. "Kondisi ini seharusnya memberikan dukungan lebih lanjut terhadap harga minyak sawit pada kuartal terakhir 2026," kata MPOC dalam pernyataannya. MPOC menilai, pelemahan ekspor minyak sawit pada September kemungkinan hanya bersifat sementara. Pengiriman diproyeksikan meningkat signifikan selama periode Oktober hingga Desember 2026. Permintaan dari negara importir utama, terutama India dan China, juga diperkirakan menguat dalam beberapa bulan mendatang. Kedua negara tersebut berpotensi meningkatkan ketergantungan pada impor minyak sawit karena pasokan minyak bunga matahari dan minyak kedelai diperkirakan menghadapi kendala. Kondisi tersebut dapat memperkuat permintaan CPO Malaysia di tengah prospek penurunan persediaan.
Baca Juga: Barcelona Laporkan PSG ke UEFA, Tifo Gergaji Mesin Picu Kontroversi Konsumsi biodiesel turut menopang harga CPO Selain permintaan pangan, harga energi yang masih tinggi menjadi faktor pendukung bagi pasar minyak nabati. Menurut MPOC, kondisi tersebut mendorong peningkatan pencampuran biodiesel secara global, terutama di Indonesia. Permintaan bahan baku untuk produksi biodiesel berpotensi menopang konsumsi minyak sawit sekaligus membatasi pasokan yang tersedia untuk kebutuhan lainnya.
Namun, MPOC juga mengingatkan sejumlah risiko yang dapat menekan harga CPO. Penurunan harga energi dan konsumsi minyak nabati untuk sektor pangan yang lebih lemah dari perkiraan dapat membatasi kenaikan harga. Tekanan inflasi dan kondisi ekonomi global menjadi faktor yang perlu dicermati karena berpotensi mengurangi daya beli serta permintaan konsumen terhadap produk pangan. Dengan demikian, prospek harga CPO pada akhir 2026 akan bergantung pada keseimbangan antara peningkatan permintaan ekspor dan biodiesel, penurunan produksi musiman, serta perkembangan harga energi dan konsumsi minyak nabati global.
Baca Juga: Meta Digugat di Australia, Facebook dan Instagram Dituding Bikin Anak Kecanduan