KONTAN.CO.ID - Harga minyak sawit mentah atau
crude palm oil (CPO) Malaysia diperkirakan tetap kuat di atas 4.600 ringgit atau sekitar US$ 1.133,56 per metrik ton pada September 2026. Melansir
Reuters, proyeksi tersebut disampaikan Malaysian Palm Oil Council (MPOC) pada Rabu (19/8), seiring mengetatnya pasokan dan gangguan jalur perdagangan global yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap minyak sawit.
Baca Juga: Latihan Militer AS-Korsel Dipangkas Separuh Usai Perintah Trump, Ada Apa? MPOC memperkirakan produksi minyak sawit Malaysia secara tahunan akan menurun pada kuartal IV 2026. Secara historis, produksi biasanya mencapai puncaknya pada September atau Oktober. Selain produksi, tingkat ekstraksi minyak (
oil extraction rate/OER) juga menjadi perhatian. OER berada di atas rata-rata 10 tahun pada Januari-Mei berkat kondisi curah hujan yang mendukung sekitar enam bulan sebelumnya. Namun, tingkat ekstraksi tersebut turun signifikan pada Juni dan Juli. MPOC memperkirakan OER akan tetap berada di bawah rata-rata sepanjang sisa tahun ini. Gangguan Perdagangan Angkat Permintaan CPO MPOC juga menyoroti gangguan pelayaran di sejumlah jalur perdagangan strategis, termasuk Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah dan Selat Hormuz. Gangguan tersebut diperkirakan memengaruhi arus perdagangan minyak nabati global. Di kawasan Laut Hitam, operasional sejumlah pelabuhan utama dan fasilitas penghancuran biji minyak juga dihentikan setelah kembali meningkatnya konflik Rusia-Ukraina.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$ 4.342 Rabu (19/8), Pasar Menanti Risalah Rapat The Fed Kondisi tersebut menambah ketidakpastian terhadap ketersediaan ekspor minyak bunga matahari dalam satu hingga dua bulan ke depan. MPOC menyebut gangguan tersebut mulai menggeser permintaan minyak nabati di sejumlah negara importir utama, termasuk India, ke minyak sawit. "Gangguan ini menggeser permintaan minyak nabati di pasar importir utama seperti India ke minyak sawit, terutama menjelang musim perayaan," kata MPOC dalam keterangannya. Selain faktor pasokan, harga CPO juga mendapat dukungan dari membaiknya keekonomian biodiesel, terutama di Indonesia. Harga CPO Sudah 4.860 Ringgit Meskipun prospek harga masih positif, MPOC mengingatkan terdapat sejumlah risiko penurunan harga CPO. Risiko tersebut antara lain meredanya hambatan distribusi di kawasan Laut Hitam, masuknya pasokan baru minyak bunga matahari dari hasil panen terbaru ke pasar ekspor, serta membaiknya kondisi geopolitik yang dapat menurunkan harga energi.
Baca Juga: Gali Saluran, Pekerja Bangunan Temukan Harta Karun Emas 49 Batangan & Ribuan Koin Penurunan harga energi berpotensi mengurangi daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel sekaligus menekan permintaan terhadap CPO. Sebagai gambaran, harga CPO Malaysia terakhir diperdagangkan di level 4.860 ringgit per ton pada Selasa (18/8/2026). Dengan kondisi pasokan yang berpotensi mengetat dan gangguan perdagangan global yang masih berlangsung, MPOC melihat harga CPO memiliki peluang mempertahankan level tinggi hingga September.