KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) meminta pemerintah untuk memberikan ruang izin impor yang lebih luas kepada importir swasta sebagai salah satu upaya menekan kenaikan harga daging sapi dan kerbau saat ini.
Direktur Eksekutif APPHI Marina Ratna mengatakan, saat ini harga daging kerbau untuk paha belakang di tingkat distributor yang ditunjuk BUMN, atau daging yang biasa digunakan untuk masak rendang dan semur, berada di kisaran Rp 128.000-Rp 130.000 per kilogram (kg). Sementara itu, harga daging sapi Brasil di tingkat distributor telah mencapai sekitar Rp 142.000-Rp 144.000 per kg. Marina menyebut, pergerakan harga tersebut salah satunya dipengaruhi pengaturan pasokan dan harga di pasar yang dinilai masih terkonsentrasi pada distributor yang ditunjuk BUMN. "Mereka memonopoli kuota dan mengatur harga sesuai kepentingannya. Kalau dulu tidak dimonopoli, harga tergantung dari mekanisme pasar," ujarnya kepada Kontan, Minggu (30/8/2026). Baca Juga: Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik Menurutnya, keterbatasan pasokan dari negara lain juga menjadi persoalan. Importir swasta saat ini hanya mendapatkan porsi kuota yang relatif kecil sehingga tidak memiliki ruang yang cukup untuk membentuk harga di pasar. "Kalau suplai dari negara lain, importir swasta hanya mendapatkan kuota sekitar 16% dari jumlah yang diberikan pemerintah. Dengan porsi tersebut, importir swasta tidak bisa membentuk harga," jelasnya. Marina juga menilai rencana Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan intervensi bersama BUMN Pangan dan asosiasi pedagang untuk menstabilkan harga belum cukup efektif. "Bapanas tidak perlu mengintervensi BUMN Pangan. Pemerintah tahu BUMN Pangan memberikan kuotanya kepada satu perusahaan dan 12 anak perusahaannya tersebut," katanya. Ia menambahkan, asosiasi pedagang juga tidak dapat banyak membantu menekan harga. Sebab, anggota asosiasi masih membeli barang dari perusahaan yang ditunjuk BUMN, dengan ruang keuntungan sekitar 3-5% tergantung volume pembelian. Menurut Marina, langkah yang lebih efektif adalah memberikan ruang yang lebih besar kepada importir swasta untuk melakukan impor daging. Dengan tambahan pasokan dari berbagai importir, harga diharapkan dapat kembali terbentuk berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran. "Yang efektif, pemerintah memberikan ruang kepada swasta untuk diberikan izin impor. Jangan dibatasi kuota 30.000 ton untuk 105 importir. Minimal seperti tahun lalu sebesar 180.000 ton," ujarnya. Baca Juga: Kuota Impor Dipangkas, Harga Daging Sapi Naik Marina juga meminta pemerintah mengalihkan kuota impor BUMN yang belum terealisasi kepada importir swasta. Menurutnya, langkah tersebut dapat menambah pasokan daging di pasar sekaligus menciptakan persaingan harga yang lebih sehat. "Alihkan kuota BUMN yang belum direalisasikan untuk importir swasta," imbuhnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News