KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali tertekan. Harga emas spot turun lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (10/9/2026), setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga pekan depan. Mengutip
Reuters, harga emas spot turun 1% menjadi US$ 4.355,85 per ons troi pada pukul 14.42 waktu setempat atau 17.42 GMT. Harga emas bahkan sempat anjlok sekitar 1,7% ke US$4.323,78 per ons troi, yang menjadi level terendah sepanjang sesi perdagangan.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun 1,2% dan ditutup di US$4.407,30 per ons troi.
Baca Juga: Bursa London Tertekan Harga Minyak dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekanan terhadap emas meningkat setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan kenaikan inflasi produsen. PPI untuk permintaan akhir naik 0,4% pada Agustus, setelah meningkat 0,1% pada Juli yang kemudian direvisi naik. Data tersebut memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan mencapai 70%, naik dari sekitar 62% sebelum data inflasi dirilis. "Data PPI menunjukkan adanya peningkatan inflasi yang mendasar," kata Kyle Rodda, analis pasar senior di Capital.com. Namun, ekspektasi pasar tersebut masih berbeda dengan mayoritas ekonom yang disurvei Reuters. Mereka memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan 15-16 September dan tidak menaikkannya hingga akhir tahun. Penguatan dolar AS turut menambah tekanan terhadap harga emas. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Pasar Kurangi Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut menekan emas. Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang memegang emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Tekanan semakin besar setelah harga minyak melonjak sekitar 4% pada Kamis. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus US$105 per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat meningkatnya serangan terhadap pelayaran setelah perang AS-Iran dimulai. "Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi yang lebih persisten dan lebih tinggi," ujar Rodda.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian bank sentral global. Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini guna meredam kenaikan inflasi yang dipicu lonjakan biaya energi akibat perang.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Konflik Timur Tengah Picu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot turun 4,6% menjadi US$64,19 per ons troi. Platinum merosot 5,5% menjadi US$1.791,13 per ons troi, sedangkan paladium turun 5,1% menjadi US$1.283,52 per ons troi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News