KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia masih berada dalam tren pelemahan dan diperkirakan berpotensi melanjutkan koreksi hingga akhir Juni 2026. Namun, kondisi tersebut justru dinilai sebagai momentum yang menarik bagi investor untuk mulai melakukan akumulasi. Melansir Trading Economics pada Kamis (25/6/2026) pukul 15.30 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 3.998,16 per ons troi atau terkoreksi sebanyak 5,03% dalam sepekan dan 11,35% dalam sebulan terakhir.
Level tersebut saat ini dapat dibilang sudah cukup murah, mengingat pada akhir Januari 2026 lalu harga emas spot sempat terbang hingga menyentuh US$ 5.500 per ons troi. Baca Juga: Harga Minyak Mentah Turun, Rupiah Menguat ke Rp 17.943 per Dolar AS Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan koreksi harga emas saat ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan (
higher for longer). Menurutnya, pelaku pasar kini mulai berspekulasi bahwa bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga hingga dua kali pada tahun ini. Sebelumnya, pasar hanya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga. Diketahui saat ini suku bunga acuan The Fed berada di level 3,50% hingga 3,75%. "Bank Sentral Amerika yang diekspektasikan akan menaikkan suku bunga di 2026, dua kali di Juli, atau September, atau Desember, karena inflasi tinggi. Selain itu, dolar pun juga menguat tajam. Saat ini indeks dolar sudah di 101 ya," ujar Ibrahim kepada Kontan, Kamis (25/6/2026). Memang, belakang indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan yang cukup signifikan. Pada Kamis (25/6) indeks dolar AS di level 101,5. Ibrahim menjelaskan, penguatan dolar AS membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana dari emas ke instrumen lain yang lebih menguntungkan. Meski demikian, ke depan Ibrahim memperkirakan pelemahan harga emas tidak akan berlangsung terlalu dalam. Pasalnya, pelemahan rupiah berpotensi menahan penurunan harga emas fisik di dalam negeri, termasuk emas Antam. Karena itu, ia melihat koreksi harga saat ini sebagai kesempatan bagi investor yang memiliki dana menganggur untuk mulai membeli emas secara bertahap. "Saat harga logam mulia relatif lebih murah seperti sekarang, ini sebenarnya kesempatan untuk melakukan pembelian. Jangan terlalu menunggu harga yang jauh lebih rendah karena ada risiko harga kembali berbalik naik," katanya.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.943 Per Dolar AS Hari Ini (25/6), Asia Perkasa Ibrahim memperkirakan harga emas dunia masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek sambil menunggu perkembangan inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS pada Juli mendatang. Apabila inflasi AS mulai melandai seiring penurunan harga energi, maka peluang pelonggaran kebijakan moneter akan kembali terbuka. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi harga emas. Tetapi dalam jangka menengah hingga akhir tahun, Ibrahim masih optimistis prospek emas tetap positif. Ia memperkirakan harga emas dunia berpeluang kembali menguat pada kuartal III dan kuartal IV 2026. Menurutnya, ketidakpastian geopolitik global, termasuk potensi memanasnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah masa kesepakatan damai berakhir, dapat meningkatkan permintaan aset safe haven. Selain itu, peluang penurunan suku bunga AS menjelang akhir tahun juga berpotensi mendorong reli harga emas.
"Saya masih optimistis harga emas dunia bisa kembali naik hingga mendekati level US$ 5.000 per ons troi pada akhir tahun. Harus diingat bahwa kenaikan dan penurunan harga emas itu cepat sekali bisa dalam satu hari bisa 500 poin bisa US$ 500 dolar," ujarnya. Sejalan dengan itu, Ibrahim memperkirakan harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (ANTM) juga berpeluang kembali menguat hingga kisaran Rp 3,2 juta per gram pada akhir 2026. Hari ini harga emas Antam dihargai Rp 2.655.000 per gram.
Baca Juga: Gudang Garam (GGRM) Salurkan Dividen Tunai Rp 1,5 Triliun, Intip Jadwalnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News