Harga Emas Anjlok 2% pada Jumat (14/4) Malam Akibat Sinyal Terbaru The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas melemah tajam pada Jumat (14/4) setelah melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun pada perdagangan kemarin. Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan komentar pejabat Federal Reserve yang menandai perlunya kenaikan suku bunga lagi menjadi penekan harga emas jelang akhir pekan.

Jumat (14/4) pukul 22.25 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.999,66 per ons troi. Harga emas turun 1,99% dari posisi kemarin US$ 2.040,22 per ons troi yang merupakan level tertinggi sejak awal Maret 2022.

Harga emas kontrak Juni 2023 pun turun 2,02% ke US$ 2.013,80 per ons troi. Kemarin, harga emas berjangka AS mencapai US$ 2.055,30 per ons troi yang juga berada di level tertinggi sejak Maret 2022.


Jelang akhir pekan ini, indeks dolar memantul dari level terendah satu tahun. Imbal hasil US Treasury juga naik setelah seorang pejabat utama Fed memperingatkan bahwa bank sentral AS perlu melanjutkan kenaikan suku bunga untuk menjinakkan inflasi.

Baca Juga: Wall Street Menguat Tipis, Lonjakan Saham Bank Besar AS Tak Mampu Menyokong Pasar

Emas bersaing dengan dolar sebagai tempat berlindung yang aman di tengah gejolak ekonomi atau politik. Sementara kenaikan mata uang AS juga meredupkan selera untuk emas karena menyebabkan harga emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang non-dolar AS.

Juga menahan harga emas, CME FedWatch menunjukkan para pedagang sekarang meramalkan peluang 82,6% atas kenaikan 25 basis poin di bulan Mei dibandingkan dengan peluang 70% di awal minggu.

Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures mengatakan bahwa pasar emas kemungkinan akan melemah saat kita memasuki periode pemadaman menjelang keputusan Fed pada bulan Mei dengan perkiraan kenaikan 25 bps.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Sekitar US$ 2.040 per Ons Troi, Cermati Proyeksinya

"Jadi saya bisa melihat beberapa profit taking di sini, tapi harga emas akan stabil di sekitar US$ 2.000," kata Pavilonis kepada Reuters.

Tetapi analis mengatakan prospek bullion tetap positif, mengikuti pergerakan selama beberapa sesi terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi yang dapat mendorong Fed untuk mengakhiri siklus kenaikan suku bunga.

"Saya masih memperkirakan harga akan mencapai rekor tertinggi dan memperpanjang keuntungan hingga U$ 2.100," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati