KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mengalami tekanan sepanjang Oktober 2026. Perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sejumlah faktor yang membebani pergerakan logam mulia. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot pada 30 Oktober 2026 berada di level US$ 3.874,62 per ons troi. Harga tersebut terkoreksi 6,80% dibandingkan posisi akhir September 2026 sebesar US$ 4.157,41 per ons troi. Secara year-to-date (YtD), harga emas juga melemah 10,30% dibandingkan penutupan akhir 2025 di level US$ 4.319,37 per ons troi. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, koreksi harga emas tidak menunjukkan hilangnya fungsi lindung nilai atau
safe haven logam mulia. Tekanan tersebut lebih mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Rugi Wijaya Karya (WIKA) Turun Jadi Rp 1,53 Triliun per September 2026 "Koreksi emas sepanjang Oktober menurut saya tidak menunjukkan hilangnya fungsi lindung nilai, tetapi mencerminkan perubahan ekspektasi suku bunga akibat lonjakan harga energi. Kenaikan Brent mendorong ekspektasi inflasi AS dan membuat pasar kembali memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih ketat," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (30/10/2026). Menurutnya, kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar AS turut meningkatkan biaya peluang (
opportunity cost) memegang emas. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menyentuh 5,35% membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik bagi investor. "Ketika yield US Treasury 10 tahun dan dolar menguat, biaya peluang memegang emas meningkat. Kondisi ini memicu koreksi harga yang kemudian diperbesar oleh pelepasan posisi spekulatif setelah reli panjang sebelumnya," imbuhnya. Senada, analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menyebut kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar AS turut meningkatkan biaya peluang memegang emas. Ekspektasi suku bunga The Fed yang bertahan tinggi dalam waktu lebih lama atau
higher for longer juga membatasi ruang penguatan harga. "Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus level psikologis 5,00% melipatgandakan
opportunity cost memegang emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil," tuturnya. Wahyu bilang, aksi ambil untung turut memperbesar tekanan setelah harga emas sebelumnya mencatatkan reli hingga menembus level tertinggi historis di atas US$ 5.500 per ons troi. Penguatan indeks dolar AS juga dimanfaatkan pelaku pasar untuk merealisasikan keuntungan. Sementara itu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi salah satu sentimen utama yang menekan logam mulia. Inflasi PCE AS yang mencapai 3,6% secara tahunan dan pertumbuhan PDB kuartal III sebesar 3,4% membuat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 75%-80%.
Baca Juga: Laba Ciputra Development (CTRA) Susut Jadi Rp 1,32 Triliun di Kuartal III-2026 Untuk menyikapi volatilitas harga, Sutopo menyarankan investor tidak terburu-buru menjual kepemilikan emas maupun mengalokasikan seluruh dana sekaligus. "Strategi yang umumnya masuk akal bagi investor adalah tidak panik menjual dan tidak menaruh seluruh dana sekaligus. Beli bertahap, misalnya setiap bulan dalam jumlah tetap, membantu meratakan harga beli saat pasar masih belum menentu," jelas Sutopo.
Ia juga menyarankan investor menjadikan emas sebagai porsi utama investasi logam mulia, sementara perak, platinum, dan paladium ditempatkan dalam porsi lebih kecil karena memiliki risiko lebih tinggi. Investor juga perlu menggunakan dana dingin dengan horizon investasi beberapa tahun. Ke depan, Sutopo memproyeksikan harga emas berpeluang bergerak menuju US$ 4.300 per ons troi. Namun, investor perlu mencermati level US$ 3.950 sebagai area dukungan. Apabila level tersebut ditembus, harga emas berisiko melemah lebih lanjut menuju US$ 3.900 per ons troi. Peluang pemulihan tetap terbuka apabila The Fed tidak menaikkan suku bunga, inflasi AS mereda, atau perundingan AS-Iran berhasil menekan harga minyak. Sementara itu, Wahyu memperkirakan harga emas masih bergerak konsolidatif hingga akhir 2026, dengan kisaran US$ 3.700-US$ 4.800 per ons troi. Dalam jangka panjang, prospek emas masih ditopang ketidakstabilan fiskal AS, peningkatan beban utang pemerintah, serta akumulasi emas oleh bank sentral dunia sebagai bagian dari diversifikasi cadangan dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News