KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia turun hampir 2% pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Harga emas spot merosot 1,9% menjadi US$4.451,65 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada akhir pekan lalu. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun lebih dalam, yakni 2,5% ke level US$4.479,20 per ons. Tekanan terhadap emas muncul di tengah menguatnya dolar AS dan lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Harga Emas Melemah Hampir 2% Jelang Tengah Hari Ini, Terseret Penguatan Dolar AS Iran dilaporkan menyerang pangkalan militer AS sebagai balasan atas serangan Washington terhadap sejumlah target militer Iran pada akhir pekan. Situasi semakin memanas setelah tim negosiasi Iran menyatakan menghentikan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui pihak mediator. Kenaikan harga minyak yang dipicu konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global. Kondisi itu mendorong pelaku pasar memperkirakan bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga. Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Konflik Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Inflasi Menurutnya, emas berpotensi terus berada di bawah tekanan selama imbal hasil obligasi masih meningkat dan suku bunga belum menunjukkan tanda-tanda stabil atau menurun. Berdasarkan alat pemantau FedWatch CME Group, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 56% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali sebelum akhir tahun. Meski kerap dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tarik emas biasanya berkurang ketika suku bunga tinggi karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen keuangan lainnya. Pekan ini perhatian investor juga tertuju pada serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya. Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai fokus pasar saat ini masih didominasi risiko geopolitik dan lonjakan harga energi. Namun, ia memperkirakan investor akan kembali mencermati faktor-faktor fundamental yang selama beberapa tahun terakhir menopang tren kenaikan emas setelah situasi geopolitik mereda.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak Hampir 2% di Tengah Ketidakpastian Konflik Timur Tengah Hansen juga memperkirakan bank-bank sentral di berbagai negara akan tetap menjadi pembeli bersih emas dalam setahun ke depan, sehingga dapat memberikan dukungan bagi harga logam mulia tersebut dalam jangka panjang. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak turun 1,7% menjadi US$73,96 per ons, platinum melemah 0,4% menjadi US$1.908,91 per ons, dan paladium turun 0,8% menjadi US$1.343,04 per ons. Sementara itu, Morgan Stanley menilai pasar paladium mulai bergerak menuju keseimbangan karena kendala pasokan semakin diimbangi oleh melemahnya permintaan dari industri otomotif global.