Harga Emas Anjlok ke Level Terendah sejak Maret 2026, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - Harga emas menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu (27/5), tertekan oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat untuk meredam inflasi yang terus meningkat, di tengah belum adanya tanda berakhirnya perang yang didukung Amerika Serikat dengan Iran.

Data Reuters menunjukkan, harga emas spot turun 1,3% menjadi US$ 4.447,71 per ons pada pukul 14.08 EDT (18.08 GMT), setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 27 Maret dalam perdagangan sesi tersebut.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 1,2% ke level US$ 4.448,40 per ons.


“Pengaruh terbesar masih berasal dari Timur Tengah. Sempat ada optimisme yang tersisa, tetapi karena konflik terus berlarut-larut, optimisme itu memudar,” kata Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.

Ia menambahkan, konflik yang masih berlangsung semakin memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi.

Logam mulia berada dalam tekanan sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent, memperburuk kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.

Televisi pemerintah Iran melaporkan pada Rabu bahwa Teheran akan memulihkan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang dalam waktu satu bulan, sebagai bagian dari kerangka kesepakatan dengan AS yang juga mencakup penarikan pasukan AS dari sekitar wilayah Iran.

Laporan tersebut sempat membantu memangkas sebagian penurunan harga emas.

Baca Juga: WTI dan Brent Ambles Hampir 7%, Pasar Sambut Kemajuan Negosiasi AS-Iran

Namun demikian, pasar masih menilai inflasi akibat kenaikan harga energi akan mendorong bank sentral AS, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Secara terpisah, Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bank sentral AS harus fokus menahan risiko inflasi yang mulai meningkat, meskipun masih terlalu dini untuk memprediksi kapan kebijakan suku bunga saat ini akan berubah.

Investor kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

Sementara itu, Bank of America dalam catatannya pada Selasa menyebut reli emas masih berpotensi mendorong harga perak kembali menembus US$ 100 per ons dalam beberapa bulan mendatang, meskipun permintaan fundamental dinilai mulai melemah.

Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 3,2% menjadi US$ 74,46 per ons.Harga platinum turun 2,1% menjadi US$ 1.916,90 per ons, sedangkan palladium naik tipis 0,1% ke level US$ 1.386,47 per ons.

Tonton: Gaji Ke 13 ASN Cair 2 Juni 2026 Ini Daftar Lengkap Besaran untuk PNS, PPPK, TNI, Polri dan Pensiunan

Pergerakan Harga Logam Mulia (27 Mei 2026)

Komoditas Harga Terbaru Perubahan
Emas Spot US$ 4.447,71 per ons Turun 1,3%
Emas Berjangka AS US$ 4.448,40 per ons Turun 1,2%
Perak Spot US$ 74,46 per ons Turun 3,2%
Platinum US$ 1.916,90 per ons Turun 2,1%
Palladium US$ 1.386,47 per ons Naik 0,1%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News