KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia jatuh lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (10/6/2026) dan menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan. Tekanan terhadap logam mulia ini muncul setelah memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi serta peluang kenaikan suku bunga AS. Harga emas spot turun 2,7% menjadi US$4.148,86 per ons pada pukul 11.59 GMT, level terendah sejak 23 Maret. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus merosot 2,7% menjadi US$4.169,90 per ons.
Analis Senior FXTM, Lukman Otunuga, mengatakan emas saat ini tertekan oleh meningkatnya risiko inflasi meski ketegangan geopolitik biasanya mendorong minat terhadap aset
safe haven. Baca Juga: The Fed Mempertahankan Suku Bunga Acuan, Inflasi Diproyeksi Akan Naik Menurut dia, eskalasi terbaru antara AS dan Iran justru menghambat upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga. Ketegangan terbaru terjadi setelah Garda Revolusi Iran mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan Washington terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Aksi saling serang ini menjadi salah satu bentrokan terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April lalu. Konflik yang didukung AS terhadap Iran sejak akhir Februari telah mendorong harga minyak melonjak tajam. Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan mendorong peluang pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS. Meski emas selama ini dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif karena meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: BREAKING NEWS! The Fed Pangkas Suku Bunga Acuan 25 Basis Poin, Risiko Ekonomi Tinggi Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS periode Mei yang akan diumumkan hari ini, serta data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (11/6). Kedua indikator tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan moneter The Fed pada paruh kedua 2026. Otunuga menilai data inflasi terbaru berpotensi mengubah ekspektasi pasar terkait langkah bank sentral AS dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi teknikal, ia menambahkan bahwa penurunan harga emas di bawah rata-rata pergerakan 200 hari merupakan sinyal negatif yang dapat memicu tekanan jual lanjutan.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga di 3,50%–3,75%, Berikut Pernyataan Lengkapnya Di pasar logam mulia lainnya, harga perak turun 2,4% menjadi US$63,8 per ons, platinum melemah 3,9% menjadi US$1.659,18 per ons, sementara palladium menguat 0,4% menjadi US$1.227,25 per ons. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News