KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (18/2/2026), setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah dalam sepekan. Penguatan ini terjadi di tengah likuiditas pasar yang relatif rendah, sembari pelaku pasar menunggu rilis risalah rapat Januari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga ke depan. Emas spot naik 1,2% ke level US$ 4.934,74 per ons pada pukul 07.41 Waktu setempa. Sebelumnya, harga emas sempat anjlok lebih dari 2% pada Selasa. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April menguat 1% ke US$4.954 per ons.
Direktur Kedia Commodities yang berbasis di Mumbai, Ajay Kedia, menilai kenaikan harga emas kali ini lebih bersifat teknikal.
Baca Juga: Harga Emas Sentuh Level Terendah Dalam 3 Pekan, Dipicu Penguatan Dolar AS Menurutnya, emas mendapat dukungan kuat di atas level US$4.850 setelah tekanan pada sesi sebelumnya mereda seiring turunnya tensi geopolitik. "Ini lebih merupakan technical bounce," ujarnya. Selain menanti risalah rapat The Fed yang dijadwalkan rilis pukul 19.00 Waktu setempat, investor juga mencermati laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat bulan Desember yang akan dirilis Jumat. Data ini menjadi salah satu indikator utama untuk menilai arah inflasi dan kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini. Berdasarkan ekspektasi pasar yang tercermin melalui CME FedWatch, investor saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama akan dilakukan pada Juni. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung lebih diminati. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan bank sentral masih berpeluang melakukan beberapa kali pemangkasan suku bunga tahun ini jika inflasi kembali melandai menuju target 2%. Namun, pandangan berbeda disampaikan Gubernur The Fed, Michael Barr, yang menilai pemangkasan suku bunga berikutnya kemungkinan masih cukup jauh mengingat risiko inflasi AS yang belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak 2% Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed Dari sisi geopolitik, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip panduan untuk pembicaraan nuklir. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan hal tersebut belum berarti kesepakatan final akan segera tercapai. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dikabarkan mendorong Kyiv agar bergerak cepat mencapai kesepakatan, di tengah perundingan damai Ukraina–Rusia yang dimediasi AS di Geneva. Analis senior StoneX, StoneX, Matt Simpson, memperkirakan ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek masih terbatas. "Reli kemungkinan tertahan, sementara setiap pelemahan akan dimanfaatkan untuk jual beli. Dalam waktu dekat, emas berpotensi bergerak di kisaran US$4.700 hingga US$5.100 per ons," ujarnya.
Baca Juga: Harga Emas Global Rebound, Trump Bergerak Gulingkan Gubernur The Fed Sementara itu, logam mulia lain juga mengalami penguatan. Perak spot naik 3,2% ke US$75,79 per ons setelah sehari sebelumnya merosot lebih dari 5%. Platinum menguat 2,2% ke US$2.051,55 per ons, sedangkan paladium naik 2,3% ke level US$1.722,01 per ons.