Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah 4 Bulan, Tapi Tren Penurunan Belum Berhenti



KONTAN.CO.ID - Harga emas sempat memangkas kerugian setelah menyentuh level terendah dalam empat bulan pada Senin (23/3/2026). Pemicunya adalah keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan terhadap infrastruktur Iran.

Namun, tekanan terhadap emas belum berakhir. Logam mulia ini masih mencatat penurunan untuk sembilan hari berturut-turut, seiring memudarnya daya tarik akibat ekspektasi suku bunga tinggi.

Data Reuters menunjukkan, harga emas spot turun 1,8% ke level US$4.407,06 per ons pada pukul 13.30 waktu New York, setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 8% dalam satu sesi.


Bahkan, pada Jumat lalu, emas mencatat kinerja mingguan terburuk sejak 1983.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 3,7% di level US$4.407,30.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok hingga 13% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Efek Domino Pernyataan Trump

Analis High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa tekanan besar pada emas sebelumnya dipicu aksi jual besar-besaran oleh investor.

Aksi ini didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga yang membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik.

“Pembalikan arah yang tajam terjadi setelah pernyataan Trump di Truth Social. Dampaknya terasa luas ke berbagai pasar, mulai dari logam, energi, hingga saham,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut.

Baca Juga: Harga Emas Terjungkal 1,8%, Ada Apa dengan Aset Safe Haven?

Emas Tertekan Meski Ada Konflik

Secara teori, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat inflasi tinggi atau ketidakpastian meningkat.

Namun dalam kondisi saat ini, logika tersebut tidak sepenuhnya berlaku.

Kenaikan harga energi akibat konflik Iran justru mendorong ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama. Hal ini meningkatkan “biaya peluang” memegang emas, karena investor bisa mendapatkan imbal hasil lebih menarik dari instrumen lain.

Akibatnya, emas kesulitan naik meski situasi geopolitik memanas.

Kontradiksi AS-Iran Picu Ketidakpastian

Trump menyatakan telah menunda selama lima hari rencana serangan terhadap pembangkit listrik Iran, sekaligus membuka peluang negosiasi untuk mengakhiri konflik.

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf membantah adanya pembicaraan tersebut.

Meski begitu, pernyataan Trump tetap berdampak besar ke pasar:

  • Harga minyak langsung anjlok
  • Dolar AS melemah
Dolar yang lebih lemah biasanya membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga bisa menopang permintaan.

Emas Turun Lebih dari 15% Sejak Konflik Dimulai

Sejak konflik Timur Tengah memanas pada 28 Februari, harga emas sudah turun lebih dari 15%.

Bahkan, dari puncaknya di US$5.594,82 pada 29 Januari, harga emas telah terkoreksi sekitar 20%.

Tonton: Pertamina Tingkatkan Impor LPG dari AS hingga 70% sejak Awal 2026

Pergerakan Logam Lainnya

  • Perak naik 2,5% ke US$ 69,47
  • Platinum turun 2,7% ke US$ 1.868,95
  • Palladium naik 1,7% ke US$ 1.426,77
Produsen palladium terbesar dunia, Nornickel, menyebut permintaan dari industri fiberglass di China berpotensi mencapai 0,8 juta ons per tahun dalam jangka menengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News