Harga Emas Bangkit Setelah Sempat Tertekan, Pasar Cermati Kemajuan Dialog AS-Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Harga emas kembali menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026), setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan.

Penguatan ini terjadi di tengah perkembangan positif dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut menekan harga minyak dunia.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.194,99 per ons pada pukul 06.08 GMT.


Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat jatuh ke level terendah sejak 11 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru turun 0,8% menjadi US$ 4.213,10 per ons.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap Stagnan di Level Rp 2.668.000 Per Gram, Senin (22/6)

Pergerakan pasar dipengaruhi hasil perundingan tingkat tinggi antara AS dan Iran yang berlangsung di Swiss. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan kemajuan yang baik.

Dalam pernyataan bersama, Qatar dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator mengungkapkan bahwa kedua negara telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Analis Marex Edward Meir menilai situasi telah berubah signifikan dibanding beberapa jam sebelumnya ketika kedua pihak masih terlibat perdebatan.

"Situasi saat ini sangat berbeda dibanding beberapa jam lalu. Kini terlihat ada kemajuan dalam pembicaraan," ujar Meir.

Menurutnya, pasar masih akan bergerak mengikuti perkembangan geopolitik dalam beberapa waktu ke depan. Namun, karena situasinya masih sangat dinamis, investor cenderung memilih menunggu kejelasan lebih lanjut.

Kemajuan negosiasi tersebut langsung menekan harga minyak dunia. Kontrak minyak Brent turun lebih dari 1% setelah pengumuman hasil pembicaraan.

Baca Juga: Harga Emas Antam 21 Juni 2026 Stagnan, Spread Rp 267.000 per Gram

Penurunan harga minyak menjadi faktor yang diperhatikan pasar karena dapat meredakan kekhawatiran inflasi. Sebaliknya, harga minyak yang tinggi biasanya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.

Kondisi tersebut umumnya kurang menguntungkan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Di sisi lain, prospek emas masih dibayangi sikap hawkish bank sentral AS. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pekan lalu kembali menekankan risiko inflasi tanpa memberikan sinyal yang lebih lunak terkait arah kebijakan moneter.

Pernyataan tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Dari 19 pejabat The Fed, sembilan di antaranya memperkirakan suku bunga acuan masih perlu dinaikkan tahun ini.

Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember melonjak menjadi 89%, dibandingkan 61% sebelum pertemuan terakhir The Fed.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap di Level Rp 2.668.000 Per Gram pada Minggu (21/6)

Kondisi ini menciptakan tarik-menarik sentimen di pasar emas. Di satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik mendukung pemulihan harga. Namun di sisi lain, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS berpotensi membatasi ruang penguatan emas dalam jangka pendek.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Harga perak spot melonjak 2,4% menjadi US$ 66,48 per ons, platinum naik 0,7% ke US$ 1.675,91 per ons, dan paladium menguat 1,8% menjadi US$ 1.280,45 per ons.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News