KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah sempat melonjak lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian terkait arah suku bunga Amerika Serikat (AS), sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 03.00 GMT, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.035,67 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,7% ke level US$ 4.042,20 per ons troi.
Sebelumnya, pada Selasa (14/7/2026), harga emas melonjak lebih dari 2% dan sempat menyentuh level tertinggi US$ 4.100,49 per ons troi. Kenaikan tersebut terjadi setelah emas bangkit dari posisi terendah dalam dua pekan, didorong oleh data yang menunjukkan inflasi konsumen AS pada Juni melambat lebih besar dari perkiraan seiring penurunan harga energi. Namun, penguatan emas tidak berlangsung lama. Harga minyak dunia terus meningkat untuk sesi ketiga berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran.
Baca Juga: Menjelang Blokade AS, Kapal-Kapal Iran Padati Selat Hormuz Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Eskalasi terbaru konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong, menilai pelaku pasar kini mulai mengalihkan perhatian dari data inflasi AS dan lebih fokus pada perkembangan geopolitik. "Saya memperkirakan pasar saat ini mulai mengabaikan data inflasi konsumen (CPI), yang pada dasarnya merupakan indikator yang bersifat tertinggal. Trump masih mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari Selat Hormuz, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan membuat emas berada di bawah tekanan," ujar Wong. Kenaikan harga minyak mentah berpotensi memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Meski emas selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena tidak menawarkan imbal hasil. Sejumlah pejabat senior Federal Reserve menyambut positif melambatnya inflasi pada Juni. Meski demikian, mereka menegaskan perlunya lebih banyak data serupa untuk memastikan bahwa tekanan harga benar-benar mereda.
Baca Juga: Ekonomi China Tumbuh 4,3% pada Kuartal II-2026, di Bawah Ekspektasi Pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) yang dijadwalkan terbit pada hari yang sama. Data tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai arah inflasi di AS. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 58% bagi kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve pada September, turun dari 76% sebelum laporan inflasi dirilis. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di kisaran 80%. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,3% menjadi US$ 58,48 per ons troi. Sebaliknya, platinum menguat 0,2% ke level US$ 1.635,56 per ons troi, sedangkan paladium naik tipis 0,2% menjadi US$ 1.307,11 per ons troi.