Harga Emas Berpeluang Menguat, Potensi Penurunan Yield US Treasury Jadi Katalis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas masih berpeluang melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek, ditopang momentum bullish secara teknikal dan potensi penurunan imbal hasil US Treasury. 

Melansir Trading Economics pada Rabu (26/8/2026) pukul 12.21 WIB, harga emas bertengger di kisaran US$ 4.642 per ons troi, melemah 0,34% secara harian tetapi masih melanjutkan penguatan 2,27% sepekan terakhir.

Analisi Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyampaikan harga emas pada time frame H1 menunjukkan momentum bullish setelah mengalami rejection di area support US$ 4.637 - US$ 4.616.


Baca Juga: Entitas Djarum Ungkap Asal-usul Kepemilikan 10,86% Saham BTEL

Penguatan tersebut semakin terkonfirmasi dengan terbentuknya pola Bullish Engulfing, yang mengindikasikan buyer kembali mengambil alih momentum pasar. Dengan kondisi tersebut, emas berpeluang bergerak menuju area resistance US$ 4.686 hingga US$ 4.700 per ons troi.

Geraldo Kofit memperkirakan area US$ 4.686 - US$ 4.700 menjadi resistance terdekat yang berpotensi diuji apabila momentum kenaikan mampu bertahan. Level tersebut menjadi area penting karena dapat menentukan apakah penguatan harga memiliki tenaga yang cukup untuk berlanjut atau justru menghadapi aksi ambil untung.

Menurut analisisnya, tekanan jual tidak mampu mendorong harga menembus zona tersebut secara berkelanjutan. Harga justru menunjukkan rejection, yang menandakan masih terdapat minat beli cukup kuat di area support. 

“Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa seller mulai kehilangan momentum dan buyer kembali berusaha membawa harga ke level yang lebih tinggi,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: IHSG Melemah 0,07% ke 6.496 pada Sesi I Rabu (26/8), ISAT, MEDC, CUAN Top Losers LQ45

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan kemungkinan koreksi ketika harga mendekati resistance. Setelah mengalami penguatan, sebagian trader dapat melakukan profit taking sehingga memicu penurunan sementara. 

Oleh karena itu, reaksi harga di sekitar US$ 4.686-US$ 4.700 akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat keberlanjutan tren bullish emas.

Dari sisi fundamental, prospek emas juga masih cenderung positif meskipun terdapat potensi pergerakan mixed. Salah satu faktor yang memberikan dukungan berasal dari penurunan harga minyak.

Harga minyak yang lebih rendah dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut kemudian berpotensi mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield, yang menjadi katalis positif bagi emas. 

Geraldo menjelaskan, Penurunan yield menjadi faktor penting bagi emas karena logam mulia merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield obligasi turun, opportunity cost dalam memegang emas ikut berkurang. 

Baca Juga: Kelola Armada Sendiri, Laba DEWA Naik 111%, Tapi Kenapa Target Harga Dipangkas?

“Namun, terdapat faktor yang dapat membatasi penguatan emas, yakni meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kemungkinan membaiknya kondisi di Selat Hormuz,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan tersebut dapat dapat mengurangi kebutuhan investor terhadap aset safe haven. Pada perdagangan terbaru, harga minyak turun setelah Iran kembali melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pembukaan kembali jalur strategis tersebut. 

Jika tensi geopolitik semakin mereda dan aktivitas di Selat Hormuz kembali normal, permintaan safe haven terhadap emas berpotensi berkurang. Kondisi ini dapat membuat kenaikan harga lebih terbatas, terutama setelah XAUUSD sebelumnya mengalami penguatan cukup signifikan. 

“Karena itu, investor perlu memperhatikan keseimbangan antara tekanan dari berkurangnya permintaan safe haven dan dukungan dari turunnya yield Treasury,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News