KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas diperkirakan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan pekan depan. Bahkan, harganya berpeluang menembus level Rp 2,7 juta per gram hingga akhir pekan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan sikap hati-hati bank sentral Amerika Serikat (AS). Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai, kenaikan harga emas dunia saat ini didorong oleh sejumlah faktor eksternal, terutama dari AS.
Baca Juga: Cuan 12,94% Sebulan, Harga Emas Antam Naik Rp 16.000/gram (27 September 2025) Data ketenagakerjaan AS memang menunjukkan kenaikan, namun realisasinya masih berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut mengindikasikan Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Dengan situasi tersebut, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari dinilai cukup besar. Sikap
wait and see bank sentral AS ini turut menopang minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas. Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global sejak akhir pekan lalu. "Kemudian yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan harga emas itu lonjakan luar biasa, dimulai di hari Kamis, Jumat, ya itu adalah tentang masalah geopolitik," ujar Ibrahim, Minggu (11/1/2026).
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik di Akhir Pekan Pun kata Ibrahim, fokus risiko geopolitik yang tadinya berfokus terhadap Venezuela, nantinya akan kembali bergeser ke kawasan Timur Tengah. Situasi di Iran memanas akibat gelombang demonstrasi besar yang menguasai sejumlah kota utama, disertai kecaman dari Rusia, Tiongkok, serta negara-negara pendukung Iran. Di kawasan Eropa, ketegangan kembali meningkat setelah upaya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang diprakarsai AS dinilai gagal. Eskalasi konflik tersebut menambah sentimen ketidakpastian global yang mendorong penguatan harga emas. Dari sisi energi, dinamika geopolitik juga diperparah oleh ambisi AS untuk menguasai sebagian besar pasokan minyak mentah dunia. Aktivitas Trump di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin dinilai bertujuan untuk mengawasi perputaran minyak mentah dunia. Trump disebut memiliki ambisi agar AS dapat menguasai sekitar 55% pasokan minyak mentah global sehingga harga minyak dapat ditekan ke level US$ 50 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 2.000 Menjadi Rp 1.946.000 Per Gram pada Hari Ini (4/8) "Namun, target harga minyak di kisaran US$50 per barel dinilai sulit tercapai dan berpotensi menimbulkan tekanan baru bagi perekonomian global," lanjutnya. Faktor lain yang turut menopang kenaikan harga emas adalah potensi berlanjutnya perang dagang. Pemerintah AS dinilai cenderung mempertahankan kebijakan tersebut karena kontribusinya terhadap penerimaan negara. Jika perang dagang dihentikan, Amerika Serikat berisiko kehilangan pendapatan dalam jumlah besar.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp 11.000 ke Rp 2.250.000 Per Gram Hari Ini, Senin (6/10) Kombinasi faktor moneter, geopolitik, dan energi, tersebut membuat emas dan logam mulia kembali menjadi aset pilihan investor, sekaligus dinilai Ibrahim membuka peluang harga menembus level Rp 2,7 juta dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News