KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas spot diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi pada perdagangan hari Kamis (23/7/2026). Melansir
Bloomberg, Kamis (23/7/2026) pukul 11.36 WIB, harga emas spot ada di level US$ 4.126,93 per ons troi, naik 3,77% sepekan terakhir. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, peluang penguatan jangka menengah masih tetap terbuka, namun dalam jangka pendek emas berpotensi mengalami koreksi sehat setelah beberapa kali gagal menembus area resistance penting.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan tekanan beli mulai kehilangan momentum sehingga pasar berpeluang membentuk
secondary trend atau koreksi sementara sebelum kembali menentukan arah pergerakan berikutnya.
Baca Juga: PT PP (PTPP) Umumkan Pencabutan PKPU Atas Anak Usaha, Ini Detailnya Dalam analisis teknikal emas pada time frame H4 (4 jam) masih berada dalam struktur
bullish market. Meski demikian, harga belum mampu melanjutkan reli karena terus tertahan di kisaran resistance US$ 4.135 - US$ 4.148 per ons troi. “Kegagalan menembus area tersebut menunjukkan bahwa minat beli mulai melemah setelah sebelumnya mendorong harga naik secara signifikan. Situasi ini membuat peluang terjadinya koreksi jangka pendek semakin besar sebagai bagian dari proses penyeimbangan pasar sebelum muncul dorongan baru dari sisi buyer,” ungkap Geraldo dalam riset terbaru, Kamis (23/7/2026). Menurut Geraldo, kondisi seperti ini merupakan dinamika yang cukup umum terjadi dalam sebuah tren naik. Setelah mengalami kenaikan yang cukup tajam, pasar biasanya membutuhkan fase konsolidasi agar tekanan beli dan tekanan jual kembali seimbang. Oleh karena itu, Dupoin Futures menilai potensi pelemahan yang terjadi saat ini tidak serta-merta mengubah tren utama menjadi bearish, melainkan lebih mencerminkan koreksi teknikal yang masih wajar selama harga tetap bertahan di atas area support penting. Dupoin Futures memproyeksikan area US$ 4.082 hingga US$ 4.063 sebagai zona support utama yang perlu dicermati pelaku pasar. Apabila harga bergerak turun menuju level tersebut dan muncul sinyal penolakan (
rejection) maupun pembentukan swing low baru, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tekanan jual mulai mereda dan buyer kembali mengambil kendali. Sementara itu, dari sisi fundamental, Dupoin Futures melihat pergerakan harga emas spot masih dipengaruhi oleh sikap
wait and see dari pelaku pasar global. Investor saat ini cenderung menahan diri sambil menunggu katalis baru yang mampu memberikan arah lebih jelas terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Baca Juga: Pefindo Cermati Risiko Geopolitik & Nilai Tukar dalam Pemeringkatan Rating Korporasi Fokus utama pasar tertuju pada perkembangan suku bunga Federal Reserve (The Fed), rilis berbagai indikator ekonomi Amerika Serikat, serta pernyataan para pejabat bank sentral yang dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan berikutnya. Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik dalam beberapa waktu terakhir membuat permintaan terhadap aset
safe haven sedikit berkurang. Dari perspektif manajemen risiko, Dupoin Futures menyarankan investor maupun trader untuk tidak terburu-buru mengejar harga ketika pasar sedang mengalami pelemahan sementara.
“Menunggu konfirmasi berupa terbentuknya pola
bullish di area support dinilai sebagai strategi yang lebih konservatif sekaligus memberikan rasio risiko dan potensi keuntungan yang lebih baik. Pendekatan ini juga membantu menghindari potensi jebakan pasar apabila koreksi berlangsung lebih dalam dari yang diperkirakan,” tandasnya. Meskipun demikian, Dupoin Futures menegaskan bahwa prospek jangka menengah harga emas masih relatif positif selama area support utama tetap mampu dipertahankan. Koreksi yang terjadi saat ini dinilai sebagai bagian dari proses pembentukan fondasi baru sebelum pasar kembali mencoba menguji area resistance yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, perhatian pelaku pasar sebaiknya difokuskan pada respons harga ketika memasuki kisaran US$ 4.082 - US$ 4.063 per ons troi, karena area tersebut berpotensi menjadi titik awal munculnya kembali momentum
bullish. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News