KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas menunjukkan stabilitas setelah ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (22/1). Berdasarkan tradingeconomics.com, harga emas berjangka naik 0,53% menjadi US$ 2.031,63 per ons troi pada Selasa (23/1) per pukul 13.52 WIB. Analis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer mengatakan, harga emas mencatatkan penurunan lebih dari 0,34% pada Senin (22/1). Saat ini, emas memproyeksikan support di US$ 2.004,60 dan resistance di US$ 2.041,90 per ons troi. Menurut Andrew, harga emas menghadapi tekanan pada awal pekan yang dipicu oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama. Hal ini terjadi di tengah pelemahan dolar sehingga memberikan dukungan terhadap logam mulia ini, membuatnya tetap di atas level kunci.
"Emas telah mengalami aksi profit taking pada bulan Januari, terutama setelah trader membatalkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada Maret 2024," kata Andrew dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/1). Baca Juga: Harga Mulai Stabil, Harga Emas Berpotensi Naik di Perdagangan Selasa (23/1) Dalam pandangannya, Andrew menjelaskan, peningkatan permintaan safe haven, terutama dalam menghadapi konflik di Timur Tengah, telah membantu emas untuk tetap berada di atas level US$ 2.000 per ons troi. Meskipun dolar mengalami aksi profit taking jangka pendek, emas masih di bawah tekanan potensi kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi. Menurut Fedwatch tool dari CME, trader sekarang cenderung memperkirakan bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada bulan Maret 2023, berlawanan dengan ekspektasi awal untuk pemotongan. Hal ini terjadi seiring sejumlah pejabat The Fed menyatakan bahwa penurunan suku bunga masih terlalu dini, terutama karena inflasi masih tinggi. "Data ekonomi utama AS minggu ini, seperti PDB kuartal keempat 2023 dan indeks harga PCE, diharapkan menjadi faktor penentu dalam rencana suku bunga The Fed tahun ini," kata Andrew.