Harga Emas Berpotensi Turun Karena Kurangnya Permintaan Aset Safe Haven



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas berpotensi turun seiring dengan berkurangnya permintaan akan aset safe haven dan prospek suku bunga yang lebih tinggi di Amerika Serikat untuk jangka waktu yang lebih lama.

Jumat (26/4) pukul 13.11 WIB, harga emas spot menguat 0,27% ke US$ 2.338,72 per ons troi. Dalam sepekan, harga emas spot masih tercatat turun 2,22% dari level US$ 2.391,93 per ons troi pada Jumat (19/4) lalu.

Analis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer menyebutkan, harga emas saat ini lebih rendah dari harga tertinggi sebelumnya, berkisar antara US$ 2.340-US$ 2.343 per ons troi.


Keadaan yang tidak menentu juga menjadi faktor pengaruh yang signifikan. Situasi geopolitik yang terus berfluktuasi memperkuat potensi penurunan harga. "Prediksi ini juga dipengaruhi oleh berita terkait pertumbuhan PDB AS dan peran dolar AS dalam konflik global yang mengarah pada penurunan harga emas," tulisnya dalam riset, Jumat (26/4).

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap di Rp 1.319.000 Per Gram, Jumat (26/4)

Harga emas menunjukkan penurunan tajam dari rekor tertinggi sebelumnya, sebagian karena ketidakpastian atas konflik Iran dan Israel yang tidak berkembang sesuai prediksi. Kekhawatiran atas konflik tersebut telah meredakan permintaan akan aset safe haven.

"Kekuatan dolar yang masih kuat juga menekan harga emas, mengingat hubungan yang terbalik antara dolar dan harga logam mulia," sambungnya.

Fischer menyebut, emas saat ini mengincar level support di US$ 2.300, dengan prospek lebih banyak penurunan jangka pendek. Namun, pergerakan selanjutnya diprediksi akan dipengaruhi oleh data ekonomi AS dan isyarat terkait suku bunga.

Data PDB kuartal I AS dan indeks harga PCE diantisipasi akan memiliki dampak signifikan terhadap harga emas. Utamanya, karena kedua data tersebut terkait langsung dengan kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Kekhawatiran atas permintaan yang stabil juga membebani pasar, terutama setelah data indeks manajer pembelian AS menunjukkan performa di bawah ekspektasi untuk bulan April. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati