KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas masih menghadapi tekanan di tengah penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury, pergerakan emas masih dibayangi sentimen menunggu risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada September. Risalah Federal Open Market Comittee (FOMC) tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk melihat arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya, termasuk seberapa besar peluang kenaikan suku bunga berikutnya. Melansir Trading Economics pada Rabu (7/10/2026) pukul 14.55 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di kisaran US$ 4.132 per ons troi, melemah 0,76% secara harian dan 5,1% dalam 30 hari terakhir.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mencermati secara teknikal, harga emas masih berpeluang melanjutkan pelemahan. Pada Daily timeframe, emas masih gagal menembus zona resistance kuat di level US$ 4.185-US$ 4.219 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 10.000 Jadi Rp 2.580.000 per Gram, Rabu (7/10) Kegagalan tersebut membentuk false break, yang menunjukkan tekanan jual masih muncul ketika harga mendekati area resistance. “Kondisi ini menunjukkan seller masih memiliki kendali dan membuka peluang harga melanjutkan pelemahan menuju support US$ 4.110-US$ 4.064 dalam jangka pendek,” ujar Geraldo dalam riset yang diterima Kontan, Rabu (7/10/2026). Dari sisi fundamental, pergerakan emas masih dipengaruhi oleh arah dolar AS dan imbal hasil US Treasury. Pelaku pasar kini menunggu risalah FOMC September untuk mencari petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap arah suku bunga berikutnya. Sebelumnya, emas sempat memperoleh dorongan setelah dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah. Pada Selasa (6/10), harga emas naik sekitar 0,7% menjadi US$4.168,33 per troy ounce setelah yield US Treasury 10 tahun turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade dan dolar AS ikut terkoreksi. Namun, kondisi tersebut belum cukup mengubah struktur teknikal emas menjadi bullish. Geraldo mengatakan, respons pasar terhadap risalah FOMC akan menjadi salah satu katalis yang menentukan pergerakan emas dalam jangka pendek.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (6/10): Turun Rp 10.000 Jadi Rp 2.570.000 Per Gram Jika risalah menunjukkan sikap The Fed yang lebih hawkish dan membuka ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut, dolar AS dan Treasury yield berpotensi kembali menguat sehingga menekan harga emas. “Risalah FOMC akan menjadi katalis penting karena pasar ingin melihat seberapa besar peluang kenaikan suku bunga berikutnya. Jika nada The Fed lebih hawkish, penguatan USD dan yield dapat kembali menekan emas. Sebaliknya, apabila risalah menunjukkan kehati-hatian terhadap kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja, emas berpotensi mendapatkan ruang rebound,” jelas Geraldo. Pasar saat ini telah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober setelah data tenaga kerja September menunjukkan perlambatan. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih diperhitungkan.
Mengutip Reuters, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 22%. Sementara itu, probabilitas kenaikan pada Desember berada di sekitar 84%. Ekspektasi tersebut membuat pergerakan US Treasury yield tetap menjadi perhatian. Selain faktor moneter, emas masih mendapatkan dukungan struktural dari permintaan aset safe haven dan ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp 6.000 Jadi Rp 2.580.000 per Gram Senin (5/10) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News