Harga Emas Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas sedikit turun pada Jumat (4/9/2026) namun tetap berada di jalur kenaikan mingguan yang moderat, seiring investor mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga bulan September menjelang rilis data nonfarm payrolls AS yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve.

Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,1% menjadi US$ 4.467,30 per ons pada pukul 11.37 GMT, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,6% menjadi US$ 4.513,70 per ons.

Namun, harga emas tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan tipis setelah pulih dari level terendah tiga minggu yang sempat dicapai pada hari Rabu, dengan harga yang mendapat dorongan tambahan dari komentar Gubernur The Fed, Christopher Waller.


Baca Juga: Vietnam Perkuat Diplomasi Ekonomi, To Lam Melawat Rusia hingga AS

Para pedagang mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga bulan September setelah Waller menyatakan kecenderungannya untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan kebijakan bank sentral bulan ini, jika data inflasi mendatang menunjukkan tekanan harga yang melandai.

"Berita bahwa Gubernur Waller cenderung tidak mendukung kenaikan suku bunga memberikan dorongan besar bagi emas—seperti suntikan steroid—di mana harga logam mulia ini sempat naik sekitar 2%. Namun, efek tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara karena data terbaru akan menjadi penentu utama berikutnya," ujar analis independen Ross Norman.

"Saat ini muncul kembali optimisme di kalangan investor emas, seolah-olah pasar sedang mencari alasan untuk mendorong harga lebih tinggi," kata Norman. 

Laporan non-farm payrolls AS dijadwalkan rilis pada pukul 12.30 GMT, diikuti oleh laporan inflasi CPI dan PPI bulan Agustus pada pekan depan.

Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Tahan Suku Bunga September, Tunggu Data Inflasi AS

Meskipun emas biasanya dipandang sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (yield) tersebut.

Citi menyatakan tetap optimistis (bullish) terhadap logam mulia, dengan target harga emas untuk periode 0–3 bulan di angka US$ 4.800 per ons dan perkiraan US$ 5.000 untuk periode 6–12 bulan.

"Momentum harga emas kemungkinan akan memicu minat beli ritel serupa dengan kondisi pada paruh kedua tahun 2025, baik untuk emas fisik maupun kontrak berjangka secara global," ungkap Citi dalam sebuah catatan.

Permintaan emas di India meningkat pekan ini karena penurunan harga memicu minat beli, sementara arus investasi terus mendukung konsumsi di China, negara konsumen emas terbesar.