KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (29/5/2026), didorong harapan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, logam mulia tersebut masih berada di jalur penurunan bulanan ketiga berturut-turut karena kekhawatiran inflasi berbasis energi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi. Mengutip
Reuters, harga spot gold naik 0,9% ke level US$ 4.532,03 per ons troi pada pukul 11.51 GMT. Meski demikian, sepanjang Mei harga emas masih terkoreksi sekitar 2%.
Baca Juga: UPDATE-Dolar Menuju Pelemahan Mingguan, Pasar Sambut Positif Negosiasi AS-Iran Sebelumnya pada Kamis (28/5/2026), emas sempat menyentuh level terendah dua bulan di US$ 4.365,76 per ons sebelum akhirnya ditutup menguat. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 0,7% ke posisi US$ 4.562,60 per ons troi. Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, emas masih memiliki korelasi negatif terhadap harga minyak karena pergerakan minyak memengaruhi inflasi dan arah kebijakan moneter. “Penurunan harga minyak mengurangi probabilitas kenaikan suku bunga, yang menjadi sentimen positif bagi emas,” ujar Staunovo. Harga minyak dunia turun lebih dari 1% dan menuju pelemahan mingguan terdalam sejak awal April setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Bankir Swiss Kalah Banding dalam Kasus Rekening Teman Dekat Putin Meski begitu, Presiden AS Donald Trump belum memberikan persetujuan final atas kesepakatan tersebut dan media pemerintah Iran menyebut negosiasi belum sepenuhnya rampung. Di sisi lain, inflasi AS pada April tercatat meningkat paling cepat dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan harga energi yang dipicu perang Iran. Kondisi ini memperkuat pandangan ekonom bahwa Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun depan, bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini. Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya diuntungkan ketika harga-harga meningkat. Namun, lingkungan suku bunga tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Perusahaan perdagangan logam mulia Rotbart & Co menyebut Mei 2026 menjadi periode konsolidasi pasar global setelah gejolak besar pada kuartal pertama tahun ini.
Baca Juga: El Nino Diperkirakan Memuncak pada Musim Gugur-Musim Dingin di China “Meski ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi masih memengaruhi sentimen, meredanya permintaan safe haven dan prospek suku bunga yang lebih tinggi menekan pasar logam mulia sepanjang bulan,” tulis Rotbart & Co dalam catatan kepada klien. Untuk logam mulia lainnya, harga spot silver stabil di level US$ 75,61 per ons troi. Platinum turun 0,1% menjadi US$ 1.920,75 per ons troi, sedangkan palladium naik 0,8% ke posisi US$ 1.378,67 per ons troi. Platinum dan palladium diperkirakan mencatat penurunan bulanan, sementara perak masih berada di jalur kenaikan bulanan.