KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (30/6/2026), seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi yang masih tinggi. Kondisi tersebut membuat harga emas berpotensi mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak April 2013. Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik tipis 0,2% menjadi US$ 4.026,17 per ons troi pada pukul 07.32 GMT. Meski demikian, sepanjang Juni harga emas telah terkoreksi sekitar 11,2%, sehingga berpeluang mencatat penurunan bulanan untuk empat bulan berturut-turut.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus relatif stabil di level US$ 4.040,60 per ons troi. Secara kuartalan, logam mulia ini juga diperkirakan membukukan penurunan pertama sejak 2024 sekaligus menjadi pelemahan terbesar sejak kuartal II-2013. Sentimen tersebut dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Iran yang mendorong kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Defisit Thailand Capai US$6,4 Miliar, Ekspor Melesat Tapi Impor Melonjak Lebih Tinggi Analis Marex, Edward Meir, menilai kombinasi inflasi yang tinggi, ekspektasi suku bunga yang meningkat, serta penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan harga emas. "Saat ini inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga juga tinggi, dan dolar AS menguat. Kombinasi faktor tersebut mengalahkan seluruh sentimen positif yang biasanya mendukung reli harga emas," ujar Edward Meir. Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tarik logam mulia tersebut cenderung menurun ketika suku bunga berada pada level tinggi karena aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang kompetitif dibandingkan instrumen berbunga. Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini mencapai sekitar 64%. Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, yakni laporan ADP Employment dan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pekan ini. Kedua data tersebut akan menjadi indikator penting dalam mengukur arah kebijakan moneter The Fed pada pertemuan berikutnya. Di sisi lain, indeks dolar AS bersiap mencatat kenaikan bulanan untuk kedua kalinya secara beruntun. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur China Kembali Ekspansi Ditopang Lonjakan Permintaan Produk AI Sementara itu, harga minyak dunia menuju penurunan kuartalan terdalam sejak 2020. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Doha pekan ini, meskipun Iran menyatakan belum ada pertemuan yang dijadwalkan secara resmi.
Strategis logam mulia OCBC, Christopher Wong, mengatakan pemulihan harga emas masih membutuhkan perubahan sejumlah faktor fundamental. "Pelaku pasar yang optimistis terhadap emas membutuhkan setidaknya satu dari tiga faktor berikut, yaitu penurunan imbal hasil riil, pelemahan dolar AS, atau meredanya ekspektasi kebijakan hawkish The Fed. Tanpa itu, kenaikan harga emas kemungkinan hanya bersifat sementara dan logam mulia ini berpotensi lebih lama bergerak dalam fase konsolidasi di bawah rekor tertingginya," tulis Christopher Wong dalam catatannya. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1% menjadi US$ 58,88 per ons troi. Harga platinum stabil di US$ 1.574,75 per ons troi, sedangkan paladium menguat 1,5% menjadi US$ 1.232,16 per ons troi. Meski demikian, ketiga logam mulia tersebut juga diperkirakan akan mencatatkan penurunan baik secara bulanan maupun kuartalan, sejalan dengan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat dan masih kuatnya dolar AS.