KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (26/6/2026) dan berada di jalur penurunan mingguan keempat berturut-turut. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang menekan harga logam mulia. Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati rapuhnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memunculkan ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan 7%, Pasokan dari Selat Hormuz Mengalir Mengutip
Reuters, harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 4.022,95 per ons troi pada awal perdagangan Asia. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,2% ke US$ 4.038,10 per ons troi. Sepanjang pekan ini, harga emas diperkirakan mencatat penurunan sekitar 3,4%, sekaligus menjadi pelemahan mingguan keempat secara berturut-turut. Dolar menguat, emas kehilangan daya tarik Tekanan terhadap emas datang seiring penguatan indeks dolar AS yang berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
Baca Juga: Yen Tertekan Dekati Rekor Terendah Sejak 1986, Dolar AS Masih Perkasa Di sisi makroekonomi, data pada Kamis (25/6) menunjukkan inflasi Amerika Serikat kembali meningkat pada Mei dan menembus level 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama kenaikan inflasi. Komentar sejumlah pejabat The Fed juga memperkuat pandangan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap tinggi lebih lama. Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee mengatakan masih ada secercah harapan pada perlambatan inflasi sektor jasa. Namun, tekanan inflasi secara keseluruhan masih terlalu tinggi dan belum bergerak menuju target bank sentral. Sementara itu, Presiden Federal Reserve New York John Williams menilai inflasi diperkirakan akan melambat tahun ini, tetapi tetap berada di atas target 2% yang ditetapkan The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini, dengan peluang sekitar 63% untuk kenaikan pada pertemuan September.
Baca Juga: Drama Suksesi JPMorgan Berlanjut, Jamie Dimon Bertahan, Kandidat Pewaris Mengerucut Ketegangan Timur Tengah masih membayangi Faktor geopolitik juga tetap menjadi perhatian investor. Organisasi Maritim Internasional PBB menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz setelah sebuah kapal melaporkan adanya serangan pada Kamis. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai keberlangsungan kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat dan Iran. Meski ketegangan geopolitik biasanya mendukung permintaan aset safe haven seperti emas, pengaruhnya kali ini tertutupi oleh ekspektasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar AS.
Baca Juga: Samsung Akan Mengumumkan Investasi US$ 648 Miliar di Korea Selatan Impor emas China turun
Sementara itu, permintaan fisik emas dari China juga menunjukkan pelemahan. Data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong turun sekitar 38% secara bulanan pada Mei menjadi 53,674 metrik ton, dibandingkan 86,715 metrik ton pada April. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,2% menjadi US$ 57,77 per ons, platinum stabil di US$ 1.600,95 per ons, sedangkan palladium naik 0,4% menjadi US$ 1.188,97 per ons. Meski demikian, seluruh logam mulia tersebut diperkirakan tetap mencatatkan penurunan sepanjang pekan ini.