Harga Emas Bersiap Naik Dalam Sepekan, Dipicu Pelemahan Dolar dan Yield Obligasi AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas naik tipis pada Jumat (21/8/2026) dan berada di jalur menuju kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, didukung oleh dolar yang melemah dan langkah buyback obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,5% menjadi US$ 4.540,18 per ons pada pukul 02.54 GMT, setelah mencapai level tertinggi sejak awal Juni pada sesi sebelumnya. 

Harga telah naik 3,6% sepanjang minggu ini. Kontrak berjangka emas AS naik 0,6% menjadi US$ 4.596,60.


"Kita telah melihat dolar melemah dan hal itu mendukung tidak hanya emas tetapi juga semua logam mulia, seiring dengan perubahan besar pada imbal hasil," kata Brian Lan, direktur pelaksana GoldSilver Central.

Baca Juga: Yuan China Dekati Level Tertinggi 3,5 Tahun, Naik 8 Pekan Beruntun

Dolar bergerak menuju penurunan mingguan, membuat emas batangan yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi pembeli di luar negeri. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan ia mungkin akan lebih meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah (Treasuries). 

Pada hari Rabu, Departemen Keuangan mengumumkan akan melipatgandakan volume pembelian kembali sekuritas berjangka waktu lebih panjang selama kuartal mendatang menjadi setidaknya US$ 4 miliar per operasi. 

Sementara itu, dua pejabat Federal Reserve menyatakan sikap hati-hati ketika ditanya bagaimana perubahan manajemen utang Departemen Keuangan dapat mempengaruhi sikap kebijakan moneter bank sentral AS.

Baca Juga: China Siapkan Dukungan Fiskal Tambahan untuk Menopang Pertumbuhan Ekonomi

Tren kenaikan harga emas akan ditentukan oleh langkah The Fed selanjutnya dan bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut mempengaruhi ekspektasi suku bunga pasar, tambah Lan. 

Data pada hari Kamis menunjukkan bahwa jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran menurun pada pekan lalu, yang mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja tetap stabil meskipun terjadi penurunan tak terduga dalam jumlah lapangan kerja pada bulan Juli; hal ini memungkinkan The Fed untuk tetap fokus pada upaya pengendalian inflasi.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar kini memperhitungkan adanya peluang sebesar 64% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada bulan depan, serta peluang sebesar 36% untuk kenaikan suku bunga.

Meskipun emas umumnya dipandang sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil (yield).

Di sisi geopolitik, Bessent menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.