Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.000, Sikap Hawkish The Fed Masih Jadi Beban



KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat tipis pada perdagangan Jumat (26/6/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) mendorong pelemahan dolar AS dan sedikit meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Meski demikian, logam mulia tersebut masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan keempat berturut-turut setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada pekan ini.

Baca Juga: Harga Emas Menuju Pelemahan Mingguan Keempat, Pasar Menilai Kembali Prospek Fed Rate


Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.051,97 per ons troi pada perdagangan Jumat siang GMT.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,5% ke level US$ 4.067,50 per ons troi.

Sebelumnya, harga emas sempat jatuh di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons pada Rabu (24/6), untuk pertama kalinya sejak November, seiring menguatnya dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Secara mingguan, harga emas diperkirakan masih melemah sekitar 2,5%.

Analis Saxo Bank Ole Hansen mengatakan, harga emas masih bergerak di sekitar level US$ 4.000 selama tiga sesi berturut-turut karena sentimen investor belum pulih setelah aksi jual tajam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, pasar masih dibayangi dua faktor utama, yakni sikap hawkish The Fed dan penguatan dolar AS.

Baca Juga: Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Pasar Minyak Tetap Waspadai Risiko Baru

Meski dolar AS sedikit melemah setelah rilis data inflasi pilihan The Fed pada Kamis (25/6), pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali lagi tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi sekitar 61%, dari sebelumnya 69% sebelum data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) diumumkan.

Hansen menilai tekanan terhadap emas berpotensi mereda apabila harga energi terus turun dan imbal hasil obligasi AS ikut melemah, karena kondisi tersebut dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk memperketat kebijakan moneternya lebih lanjut.

Harga minyak mentah sendiri telah turun lebih dari 2% setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda menyusul semakin banyak kapal tanker yang berhasil keluar dari Selat Hormuz.

Baca Juga: Bantuan Internasional Mengalir ke Venezuela Usai Gempa Dahsyat Tewaskan 188 Orang

Sementara itu, Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan memperingatkan bahwa apabila harga emas bertahan di bawah US$ 4.000 per ons, tekanan jual dapat semakin besar.

Ia memperkirakan harga emas berpotensi menguji level support di US$ 3.886 per ons troi. Bahkan, terbentuknya pola teknikal death cross dapat membuka peluang penurunan lebih lanjut menuju kisaran US$ 3.600 hingga US$ 3.700 per ons troi dalam beberapa bulan mendatang.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,8% menjadi US$ 58,33 per ons troi, platinum menguat 1,3% menjadi US$ 1.622,30 per ons troi, sedangkan paladium melonjak 2,5% menjadi US$ 1.213,76 per ons troi. Meski menguat pada perdagangan harian, ketiga logam tersebut juga masih berada di jalur penurunan mingguan.