Harga Emas Cetak Rekor Baru di US$ 5.209, Begini Kata World Gold Council



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global memasuki fase historis setelah menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.000 per troy ons. Kenaikan ini setara dengan sekitar Rp 84,9 juta. 

Hingga pukul 09.23 WIB, emas di pasar spot naik 0,56% di level US$ 5.209,2 per troy ons pada Rabu (28/1/2026). 

Di dalam negeri, lonjakan harga emas dunia turut mendorong harga emas batangan di Indonesia hingga menembus rekor baru, mencapai Rp 3.000.000 per gram.


Menanggapi lonjakan tersebut, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) World Gold Council, Joseph Cavatoni dalam rilis menilai kenaikan harga emas mencerminkan perubahan besar dalam perilaku investor global.

Menurut Cavatoni, harga emas yang menembus US$ 5.000 per troy ons merupakan hasil kombinasi dari reposisi investor, ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung, serta meningkatnya kebutuhan akan ketahanan portofolio. Banyak investor yang sebelumnya memiliki porsi emas rendah kini meninjau ulang strategi mereka dan melakukan realokasi aset. Perubahan ini mendorong harga emas naik lebih cepat dibandingkan proyeksi model valuasi tradisional.

Baca Juga: Harga Minyak Bervariasi, Disokong Kekhawatiran Pasokan AS yang Berlanjut

Dalam 30 hari terakhir, harga emas tercatat melonjak lebih dari US$ 500. Cavatoni menegaskan bahwa kenaikan ini bukan semata-mata akibat spekulasi berlebihan, melainkan mencerminkan perubahan sentimen pasar yang sangat cepat. Meski demikian, reli harga emas juga diiringi dengan peningkatan volatilitas jangka pendek, menandakan pasar masih menyesuaikan diri dengan era harga emas yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Cavatoni mengungkapkan risiko terbesar bagi emas saat ini adalah membaiknya sentimen risiko global secara signifikan. Jika pertumbuhan ekonomi menguat tanpa disertai ketegangan geopolitik, serta diikuti kepastian arah kebijakan dan meningkatnya kepercayaan terhadap koordinasi global, kebutuhan investor terhadap aset defensif seperti emas dapat berkurang.

Selain itu, kenaikan suku bunga, penguatan dolar Amerika Serikat, atau pergeseran yang berkelanjutan kembali ke aset berisiko juga berpotensi menahan laju kenaikan harga emas. Namun, Cavatoni menilai hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda kuat ke arah tersebut, sehingga posisi emas masih tergolong solid.

Ke depan, jika kondisi ketidakpastian global tetap tinggi, kebijakan ekonomi terus bersifat disruptif, dan kebutuhan diversifikasi portofolio berlanjut, emas diperkirakan akan bertahan di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji rekor baru hingga 2026.

Meski demikian, Cavatoni mengingatkan bahwa kecepatan kenaikan harga tetap menjadi faktor penting. Kenaikan yang bertahap dinilai lebih sehat dan berkelanjutan dibandingkan lonjakan tajam dalam waktu singkat. Koreksi jangka pendek atau fase konsolidasi disebut sebagai hal yang wajar dan justru dapat memperkuat fondasi harga emas pada level yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Baca Juga: Dolar Terpuruk Rabu (28/1) Usai Pernyataan Trump, Euro, Yen, dan Pound Melonjak

Selanjutnya: Kualitas Aset Menjadi Tantangan Industri Perbankan, Siapa yang Paling Tahan Banting?

Menarik Dibaca: Dynamite Kiss dan 6 Drakor Ini Punya Adegan Ciuman Paling Intim, Berani Nonton?