Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi di Atas US$ 5.100, Investor Berburu Aset Safe Haven



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas melonjak ke level rekor di atas US$ 5.100 pada Senin (26/1/2026), karena investor mencari aset aman dari ketegangan politik internasional.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 2% menjadi US$ 5.079,66 per ons troi pada pukul 08.15 ET (1315 GMT) setelah mencapai rekor US$ 5.110,50. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari naik 2% menjadi US$ 5.078,50.

Harga juga didukung oleh melemahnya dolar AS, yang bertahan di dekat level terendah beberapa bulan, membuat aset yang dihargai dolar lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.


Baca Juga: Profesor Ekonomi Senior Ini Sebut Bitcoin Bukan Safe Haven Tapi ‘Emas Palsu’

"Untuk logam mulia, tahun ini, pendorong utamanya adalah 'Trump dan Trump'," kata Adrian Ash, kepala riset di pasar online BullionVault.

“Gelombang investasi baru pertama kali mendorong pergerakan ini di logam mulia. Hal ini dipimpin oleh investor swasta di seluruh Asia dan Eropa, yang bergegas membangun kepemilikan pribadi mereka atas emas dan perak,” tambahnya.

Ancaman Tarif 100% Trump Terhadap Kanada

Dalam gejolak geopolitik terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia akan mengenakan tarif 100% pada Kanada jika negara itu menindaklanjuti kesepakatan perdagangan dengan China. 

Kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi oleh otoritas AS dan Jepang yang akan segera terjadi menjadi fokus perhatian investor lainnya. 

Pada saat yang sama, pertemuan Federal Reserve minggu ini, di mana bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap, dibayangi oleh penyelidikan kriminal pemerintahan Trump terhadap ketua Fed Jerome Powell.

Trump telah menekan Powell untuk menurunkan suku bunga.

Baca Juga: Sinyal Kelelahan Pasar Muncul, Analis Prediksi Koreksi Signifikan Saham Global

Hal itu akan mendukung emas yang tidak memberikan imbal hasil, yang telah naik hampir 18% sejauh tahun ini setelah naik 64% pada tahun 2025. Tahun lalu, emas menembus tonggak penting, termasuk US$ 3.000 per ons dan US$ 4.000 per ons  untuk pertama kalinya.

Analis di Societe Generale memperkirakan emas akan mencapai US$ 6.000 per ons pada akhir tahun, meskipun mereka memperingatkan bahwa ini mungkin perkiraan konservatif—dengan ruang untuk kenaikan lebih lanjut. 

Sementara itu, Morgan Stanley mengatakan reli dapat berlanjut, menyoroti target skenario bullish sebesar US$ 5.700. 

"Permintaan ETF yang kuat menyerap persediaan yang terbatas setelah beberapa tahun mengalami defisit... Meskipun permintaan energi surya kemungkinan telah mencapai puncaknya, yang dapat menyebabkan pelemahan di akhir tahun, faktor pendorong lainnya mendominasi untuk saat ini," catat Morgan Stanley.

Selanjutnya: Usai Kantongi Izin, Sinar Mas Asuransi Syariah Fokus Pemindahan Portofolio

Menarik Dibaca: Nasib Usaha di Ujung Tanduk? Campur Uang Pribadi dan Bisnis Bisa Picu Kerugian Lo