Harga Emas Cetak Rekor US$4.600: Saatnya Borong Saham Dua Saham Ini
Selasa, 13 Januari 2026 06:05 WIB
Oleh: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas spot dunia berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah setelah menembus level US$ 4.600 per ons troi untuk pertama kalinya pada perdagangan Senin (12/1/2026) pagi. Harga saham emiten emas di bursa saham Indonesia pun kompak melonjak. Sekarang saatnya jual atau beli saham emiten emas? Mengutip Reuters, harga emas spot naik 1,5% menjadi US$ 4.478,79 per ons troi pada pukul 01.27 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 4.600,33 per ons troi. Seiring penguatan emas global, harga emas batangan bersertifikat produksi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mencetak rekor baru. Berdasarkan situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam pecahan satu gram pada Senin (12/1/2026) berada di level Rp 2.631.000, melonjak Rp 29.000 dibandingkan posisi Sabtu (10/1/2026) di Rp 2.602.000 per gram.
Saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan penguatan tertinggi dengan lonjakan 16,39% ke level Rp 2.770 per saham.
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang naik 7,04% ke Rp 2.890 per saham.
Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang menguat 5,6% ke posisi Rp 1.790 per saham.
Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 5,51% ke Rp 3.830 per saham.
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 2,44% ke Rp 1.260 per saham.
Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) naik 1,67% ke Rp 610 per saham.
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat tipis 0,93% ke Rp 5.400 per saham.
Investment Analyst Stockbit, Theodorus Melvin, menilai kenaikan harga emas berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi kinerja emiten produsen emas. “Kenaikan harga emas dapat meningkatkan harga jual rata-rata (ASP) serta margin laba perusahaan,” ujarnya dalam riset, Senin (12/1/2026). Tonton: Perjalanan Karier Hasan Aula: Dari Pekerja Pabrik Hingga Jadi Wadirut Erajaya Faktor Pendukung Harga Emas Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai prospek emiten emas masih cukup positif seiring tren kenaikan harga emas global yang didukung fundamental kuat. Melemahnya data ekonomi Amerika Serikat, khususnya nonfarm payrolls yang hanya tumbuh sekitar 50 ribu, memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve tahun ini. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis mendukung harga emas sebagai aset non-yielding. Di sisi lain, meski dolar AS relatif bertahan kuat, harga emas tetap mampu mencetak rekor baru, menandakan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. “Ditambah ketegangan geopolitik seperti isu Venezuela dan Iran, serta pembelian emas bank sentral China selama 14 bulan berturut-turut, menjadi penopang struktural harga emas,” ujar Reza kepada Kontan, Senin (9/1/2026). Pandangan senada disampaikan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah. Ia menilai saham emiten emas masih menarik seiring tren harga emas global yang terus menguat. Selain faktor global, pergerakan rupiah terhadap dolar AS juga berpengaruh terhadap harga emas domestik. “Ketika rupiah melemah, harga emas dalam negeri cenderung naik dan memberikan dukungan tambahan bagi kinerja emiten emas,” jelas Hari. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menambahkan bahwa kenaikan harga emas mendorong ekspektasi laba bersih emiten emas tetap berada dalam tren positif. Harga emas yang masih dalam fase uptrend dan ketegangan geopolitik global menjadi katalis utama. Tonton: Stok Beras RI Aman! Bulog Siapkan 1 Juta Ton untuk Diekspor ke ASEAN Investor Perlu Waspadai Risiko Meski prospeknya positif, analis mengingatkan investor tetap mencermati risiko jangka pendek. Potensi aksi ambil untung setelah reli agresif, perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, serta penguatan dolar AS dapat memicu volatilitas harga emas. Selain itu, risiko operasional dan fluktuasi biaya produksi juga perlu diperhatikan pada saham emiten emas. Oleh karena itu, investor disarankan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan MNC Sekuritas Hari Ini (13/1), IHSG Berpeluang Menguat Rekomendasi Saham Secara teknikal, Reza melihat saham ANTM masih berpotensi menguat menuju area resistance Rp 3.920–Rp 4.100, selama mampu bertahan di atas support kunci. ANTM juga memiliki katalis jangka menengah berupa potensi masuk indeks MSCI pada 2026.
Sementara itu, Harry merekomendasikan beli saham ANTM dan BRMS dengan target harga masing-masing Rp 4.600 dan Rp 1.300 per saham.
OTT Pejabat Pajak, KPK Ungkap Modus Pangkas Pajak 80 Persen