Harga Emas dan Perak Diproyeksi Tertahan pada Mei 2026, Begini Kata Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga emas dan perak dalam jangka pendek diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip Bloomberg, Kamis (30/4/2026) pukul 07.24 WIB, harga emas spot ada di level US$ 4.560,59 per ons troi, naik 0,28% dari sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun 2,84%.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai retorika bank sentral AS dan dinamika konflik kawasan akan menjadi penentu utama pergerakan harga logam mulia dalam waktu dekat.


Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,34% ke Rp 17.385 per Dolar AS pada Kamis (30/4) Siang

"Prospek harga emas dan perak dalam jangka pendek sangat bergantung pada retorika The Fed minggu ini dan perkembangan di Timur Tengah," ujar Sutopo, Rabu (29/4/2026).

Menurut Sutopo, secara teknikal, emasĀ perlu bertahan di atas level psikologis US$ 4.550 per ons troi untuk menjaga momentum kenaikan dalam jangka menengah.

Jika tekanan geopolitik meningkat, terutama apabila eskalasi militer meluas, harga emas berpotensi kembali menguji level tertinggi sepanjang masa (all time high).

Namun demikian, dalam jangka menengah, pasar juga dihadapkan pada faktor baru, yakni transisi kepemimpinan bank sentral AS yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Pergantian kepemimpinan di bank sentral AS, termasuk pengganti Jerome Powell, diperkirakan dapat memicu perubahan pendekatan terhadap inflasi sehingga menjaga volatilitas pasar komoditas tetap tinggi.

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Raih Pendapatan US$ 252,7 Juta pada Kuartal I-2026

Untuk periode Mei 2026, harga emas diproyeksikan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup lebar, yakni US$ 4.500 hingga US$ 4.750 per ons troi.

Sementara itu, harga perak diperkirakan berada di kisaran US$ 72 hingga US$ 78 per ons troi.

Menurut Sutopo, proyeksi tersebut sangat bergantung pada arah kebijakan bank sentral AS, khususnya apakah kepemimpinan baru akan mengadopsi kebijakan yang lebih moderat atau justru agresif dalam merespons tekanan inflasi.

Jika inflasi terus meningkat akibat krisis energi global, perak berpotensi menunjukkan pergerakan yang lebih fluktuatif dibandingkan emas.

"Perak memiliki karakteristik industri yang kuat, sehingga lebih sensitif terhadap dinamika ekonomi global. Ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, namun juga berisiko lebih tinggi," kata Sutopo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: