Harga Emas Datar pada Kamis (29/2) Pagi Jelang Rilis Data PCE



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas bergerak datar pada Kamis (29/2) pagi. Para pelaku pasar menunggu data ekonomi utama dan komentar dari pejabat bank sentral AS Federal Reserve mengenai jadwal penurunan suku bunga.

Kamis (29/2) pukul 7.36 WIB, harga emas spot turun tipis US$ 0,07 menjadi US$ 2.034,47 per ons troi. Sedangkan harga emas kontrak April 2024 naik tipis 0,02% ke US$ 2.042,20 per ons troi. 

"The Fed memegang kendali pasar emas. Kita bisa melihat harga tertinggi sepanjang masa ketika mereka mengatakan sesuatu yang lebih ringkas mengenai kapan penurunan suku bunga akan dilakukan," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures kepada Reuters.


Dia menambahkan, pasar emas mengalami sesi yang tenang menjelang data personal consumption expenditures (PCE). "Kita perlu melihat data yang jauh lebih baik yang menunjukkan inflasi mereda agar harga bisa bergerak di atas angka US$ 2.050," kata Haberkorn.

Baca Juga: Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Hari Ini, Kamis (29/2/2024) Fluktuatif

Data menunjukkan, perekonomian AS tumbuh dengan kuat pada kuartal keempat di tengah kuatnya belanja konsumen, tetapi tampaknya melambat pada awal tahun baru. Ukuran inflasi yang disukai Federal Reserve adalah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti yang akan dirilis pada hari Kamis nanti malam.

Komentar The Fed baru-baru ini dan data inflasi yang panas telah mendorong spekulasi penurunan suku bunga pertama The Fed di bulan Juni, mundur jika dibandingkan dengan prediksi bulan Maret. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menghambat investasi pada emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

John Williams dari Fed mengatakan, "Meski perekonomian telah berjalan jauh menuju keseimbangan yang lebih baik dan mencapai sasaran inflasi 2%, kita belum mencapainya."

"Tanda-tanda melemahnya perekonomian diperkirakan akan mendukung emas karena hal tersebut memberikan tekanan yang lebih besar pada bank sentral untuk menurunkan suku bunga," kata Frank Watson, analis pasar di Kinesis Money dalam sebuah catatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati