KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas global diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Analis menilai peluang koreksi masih lebih besar di tengah kuatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Melansir Trading Economics pada Selasa (4/8/2026) pukul 15.40 WIB, harga emas global bertengger di kisaran US$ 4.059 per ons troi atau menguat 0,8% dalam tujuh hari terakhir namun melemah 2,5% sebulan terakhir. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, peluang pelemahan masih lebih dominan karena harga belum mampu menembus area resistance yang menjadi penghalang utama bagi kelanjutan tren naik.
Baca Juga: Bisnis Data Center Topang Prospek TLKM, Cek Rekomendasi Analis Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai bahwa selama tekanan jual masih mendominasi dan harga belum mampu bergerak di atas level resistance penting, maka skenario koreksi menuju area support masih menjadi proyeksi utama bagi emas. Dicatatnya, harga hingga kini masih tertahan di area resistance US$ 4.075, sekaligus berada di bawah Moving Average (MA) 21 yang berfungsi sebagai dynamic resistance. “Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa setiap upaya penguatan masih menghadapi tekanan jual yang cukup kuat sehingga peluang kenaikan masih terbatas,” ujar Geraldo dalam riset yang diterima Kontan, Selasa (4/8/2026). Kata Geraldo, kegagalan harga untuk ditutup di atas area resistance tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih cenderung melakukan aksi jual setiap kali harga mengalami kenaikan. Berdasarkan proyeksi teknikal Dupoin Futures, target pelemahan berikutnya berada di area support US$ 4.018. Level tersebut menjadi area penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika tekanan jual tetap berlanjut dan support tersebut gagal dipertahankan, peluang koreksi yang lebih dalam akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila muncul respons beli yang cukup kuat di sekitar level tersebut, emas berpotensi mengalami rebound teknikal. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures melihat bahwa arah harga emas masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield), serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). “Ketiga faktor tersebut masih menjadi penggerak utama pasar logam mulia dalam beberapa waktu terakhir,” tandasnya. Apabila dolar AS tetap menguat dan US Treasury Yield bertahan pada level tinggi, maka tekanan terhadap emas diperkirakan masih berlanjut. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Akibatnya, sebagian investor cenderung mengurangi eksposur pada logam mulia dan mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan return lebih kompetitif.
Selain itu, perhatian pelaku pasar juga akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk inflasi, data tenaga kerja, aktivitas sektor manufaktur maupun jasa, serta berbagai pernyataan dari pejabat Federal Reserve. “Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa prospek harga emas hari ini masih cenderung bearish. Oleh karena itu, area US$ 4.018 menjadi target support yang patut dicermati oleh pelaku pasar dalam jangka pendek,” pungkasnya.
Baca Juga: Harum Energy (HRUM) Kantongi Pendapatan US$ 1,08 Miliar, Laba Naik 22,6% Semester I Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News