Harga Emas Diprediksi Tertekan di Pekan ini, Intip Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pekan ini harga emas diperkirakan melemah usai menguat tipis pada pekan lalu. Pergerakan harga emas pekan ini akan dipengaruhi dari data inflasi Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan Trading Economics, pekan lalu harga emas tercatat naik 0,71%. Sementara di awal pekan ini, per pukul 10.58 WIB, harga emas terkoreksi 0,16% ke US$ 2.032 per ons troyi. 

Analis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer mengatakan, penguatan emas di pekan lalu didorong hasil dari pemulihan setelah penurunan tajam dalam dua minggu terakhir sekitar 4%. Sementara, pada Jumat (23/2) harga emas mengalami pergerakan yang terbatas di pasar Asia.


"Keyakinan yang semakin meningkat bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga pada awal tahun 2024 turut berkontribusi pada pergerakan harga emas yang terbatas," tulisnya dalam riset, Senin (26/2).

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 1.000 ke Rp 1.135.000 Per Gram, Senin (26/2)

Andrew mengatakan, untuk pekan ini Fokus utama akan tertuju pada 'Core PCE Price Index' yang diperkirakan akan memberikan dorongan bagi dolar AS untuk menguat. Dukungan tambahan datang dari hasil rilis berita mengenai inflasi yang cenderung meningkat, berpotensi memperkuat dampak positif terhadap dolar AS.

Menurutnya, meskipun harga emas menguat tipis di pekan lalu, arah pergerakannya masih menunjukkan tren penurunan. Hal ini sejalan dengan pengaruh inflasi yang masih berlangsung, memicu kenaikan harga-harga secara keseluruhan.

"Dalam konteks ini, perlu diwaspadai terhadap berita lainnya yang juga dapat memengaruhi dolar AS, terutama karena minggu ini diwarnai oleh banyak berita yang akan dirilis pada hari-hari berbeda," terangnya.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tipis Pada Senin (26/2) Pagi Saat Dolar AS Menguat

Berita lainnya, yaitu terkait penurunan suku bunga. Berdasarkan CME Fedwatch, pasar hampir sepenuhnya memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan Mei, sementara peluang untuk penahanan pada bulan Juni meningkat.

"Para trader juga menurunkan peluang penurunan suku bunga di bulan Juni, sementara analisis Goldman Sachs tidak lagi memperkirakan penurunan di bulan Mei," paparnya.

Dengan demikian, Andrew menilai pasar emas tetap dalam ketidakpastian, dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk kebijakan suku bunga dan kondisi pasar tenaga kerja. "Para pelaku pasar perlu memantau dengan cermat perkembangan berita terkini untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik di tengah ketidakpastian ekonomi global," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati